Untuk Pertama Kalinya, BI Dipimpin Perempuan
- Destry Damayanti mencetak sejarah baru di dunia ekonomi Indonesia setelah DPR RI menyetujui dirinya sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031
- Kombinasi pendidikan ekonomi dan pengalaman panjang di sektor keuangan menjadi modal penting ketika dirinya masuk ke jajaran pembuat kebijakan moneter nasional
Destry Damayanti mencetak sejarah baru di dunia ekonomi Indonesia setelah DPR RI menyetujui dirinya sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Paripurna DPR pada 1 September 2026. Destry menjadi perempuan pertama yang terpilih memimpin Bank Indonesia secara definitif sejak bank sentral tersebut berdiri pada 1953.
Ia dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan di Mahkamah Agung pada 2 September 2026.
Destry bukan sosok baru di lingkungan Bank Indonesia. Sebelum terpilih menjadi gubernur, perempuan kelahiran Jakarta pada 1963 itu menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 dan kembali dipercaya untuk periode kedua pada 2024.
Ketika Perry Warjiyo mengundurkan diri pada Juli 2026, Destry kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI, membuatnya terlebih dahulu merasakan tugas sebagai pemimpin tertinggi bank sentral sebelum akhirnya dipilih secara definitif.
Latar belakang akademiknya juga kuat di bidang ekonomi. Destry merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia dan meraih gelar Master of Science dalam bidang Regional Science dari Cornell University, New York, Amerika Serikat, pada 1992.
Kombinasi pendidikan ekonomi dan pengalaman panjang di sektor keuangan menjadi modal penting ketika dirinya masuk ke jajaran pembuat kebijakan moneter nasional.
Menariknya, perjalanan karier Destry tidak hanya berlangsung di bank sentral. Catatan resmi BI menunjukkan ia pernah menjadi peneliti dan pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bekerja di Kementerian Keuangan, menjadi ekonom di Citibank, serta Senior Economic Adviser untuk Duta Besar Inggris di Indonesia.
Ia kemudian menjabat Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas dan Bank Mandiri, sebelum semakin aktif di berbagai lembaga strategis pemerintah.
Destry juga pernah menjadi Ketua Task Force Ketahanan Ekonomi Kementerian BUMN, Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga dipercaya menjadi Ketua Panitia Seleksi calon pimpinan KPK periode 2015–2019.
Rekam jejak tersebut membuat kariernya terbilang unik karena mencakup dunia akademik, perbankan komersial, pemerintahan, lembaga penjamin simpanan, hingga akhirnya bank sentral.
Salah satu isu besar yang akan mengiringi kepemimpinannya adalah independensi Bank Indonesia di tengah kebutuhan koordinasi dengan pemerintah.
Dalam uji kelayakan di DPR, Destry menegaskan bahwa kerja sama tidak berarti BI kehilangan kewenangannya.
“Sinergi itu tidak berarti kita kehilangan independensi, tidak,” kata Destry.
Menurutnya, pemerintah dan BI dapat bergerak menuju tujuan ekonomi yang sama dengan tetap bekerja berdasarkan kewenangan masing-masing.
Setelah mendapat persetujuan DPR, Destry juga mengungkap salah satu pekerjaan awal yang akan dilakukan setelah resmi dilantik, yakni menata kembali pembagian tanggung jawab di antara anggota Dewan Gubernur (ADG) BI.
“Masing-masing ADG punya bidang-bidang yang akan dibawahi,” ujarnya.
Pembagian tersebut mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari kebijakan ekonomi dan moneter hingga pendalaman pasar keuangan.
Kini Destry menghadapi tantangan besar: menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Reuters mencatat Destry menempatkan stabilitas ekonomi sebagai prioritas utama, sementara BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2027 berada pada kisaran 5,2–6 persen.
Dari ekonom, akademisi, bankir, pejabat LPS hingga menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai Gubernur BI, perjalanan Destry Damayanti kini memasuki babak paling penting dalam kariernya.
Sumber: Bank Indonesia
( fan / fan )
Komentar (0)