Beras Melimpah! Stok 26 Juta Ton Aman Sampai 2027

Oleh f.andrian
Beras Melimpah! Stok 26 Juta Ton Aman Sampai 2027
  • Amran menyatakan ketersediaan beras secara nasional dapat bertahan hingga Juni 2027, lebih panjang dari target aman sampai Maret 2027.
  • Bapanas sebelumnya mencatat stok beras yang dikelola Bulog mencapai sekitar 5 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi beberapa tahun sebelumnya.

Stok beras nasional disebut berada pada level yang cukup kuat. Pemerintah memperkirakan total ketersediaan beras mencapai sekitar 25–26 juta ton, sehingga pasokan dinilai mampu menopang kebutuhan masyarakat melewati periode antarmusim hingga memasuki puncak panen pada Maret 2027.

Optimisme ini muncul di tengah ancaman musim kering dan fenomena El Nino yang berpotensi menekan produksi pertanian.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menjelaskan, angka tersebut bukan semata-mata stok beras yang tersimpan di gudang pemerintah.

Perhitungannya mencakup sekitar 10 juta ton standing crop atau tanaman yang siap dipanen, sekitar 10 juta ton beras di sektor hotel, restoran dan katering (Horeka), serta sekitar 5 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog.

Dengan kebutuhan konsumsi sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan, pemerintah menilai bantalan pasokan masih cukup besar. Amran menegaskan pemerintah optimistis pasokan mampu melewati periode sebelum panen raya berikutnya.

“Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari sampai Mei. Pada yang puncak, Maret. Overlap,” ujar Amran.

Pemerintah juga terus mengandalkan peningkatan produksi, pembangunan irigasi, optimalisasi lahan serta kebijakan pupuk untuk menjaga kesinambungan pasokan.

Bahkan, pada 15 September 2026, Amran menyatakan ketersediaan beras secara nasional dapat bertahan hingga Juni 2027, lebih panjang dari target aman sampai Maret.

Ia menyebut kebutuhan nasional sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan, sementara total ketersediaan berada di kisaran 25–26 juta ton.

Dari sisi kebijakan, pemerintah juga memperkuat pasokan pasar. Kementerian Pertanian menyebut alokasi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium ditambah 1 juta ton, untuk menjaga ketersediaan sekaligus membantu stabilitas harga di tingkat konsumen.

Langkah tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah menghadapi periode kemarau panjang dan potensi gangguan produksi akibat El Nino.

Namun, angka besar tersebut tetap perlu dibaca secara hati-hati. Tantangan produksi belum hilang karena kekeringan dapat mengurangi hasil panen di sejumlah wilayah.

Di Cirebon misalnya, Bulog menyebut musim El Nino berpotensi menyebabkan sebagian lahan mengalami gagal panen dan mengurangi pasokan gabah. Kondisi ini menunjukkan bahwa stok besar saat ini tidak otomatis berarti produksi ke depan bebas risiko.

Di sisi lain, kondisi cadangan pemerintah memang memberikan ruang untuk menghadapi risiko tersebut.

Bapanas sebelumnya mencatat stok beras yang dikelola Bulog mencapai sekitar 5 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi beberapa tahun sebelumnya.

Bapanas juga menilai kombinasi cadangan pemerintah, produksi berjalan dan stok di berbagai sektor membuat posisi pangan nasional relatif kuat menghadapi tekanan global maupun cuaca ekstrem.

Dengan demikian, kabar stok 25–26 juta ton membawa optimisme bahwa pasokan beras nasional memiliki bantalan yang cukup untuk melewati periode hingga puncak panen Maret 2027.

Tetapi keberlanjutan pasokan tetap bergantung pada produksi, kondisi cuaca, kelancaran distribusi dan kemampuan pemerintah menjaga cadangan.

Jadi, optimismenya cukup kuat, tetapi pengawasan terhadap produksi dan harga tetap menjadi kunci agar stok besar benar-benar terasa manfaatnya sampai ke masyarakat.

Sumber: Bapanas, Kementerian Pertanian RI

( fan / fan )

Komentar (0)