Kebakaran Hutan Indonesia Disorot Media Asing, Kabut Asap Sampai ke Filipina
- Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah
- wilayah Indonesia mendapat sorotan media asing
- setelah kabut asap dilaporkan menyebar hingga negara tetangga
Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia mendapat sorotan media asing setelah kabut asap dilaporkan menyebar hingga negara-negara tetangga, termasuk Filipina. Media Australia ABC melaporkan kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dan berdampak terhadap kualitas udara di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Filipina.
Dalam laporan berjudul “Indonesia battling wildfires as smoke haze spreads as far as the Philippines” yang diterbitkan Jumat (4/9), ABC menyebut pemerintah Indonesia memusatkan penanganan kebakaran di enam provinsi di Sumatera dan Kalimantan. Titik api juga dilaporkan muncul di sejumlah wilayah lain, termasuk Jawa, Sulawesi, dan Papua Barat.
Dampak kebakaran tidak berhenti di wilayah Indonesia karena pergerakan kabut asap turut dirasakan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. ABC menampilkan peta sebaran kabut asap dengan tiga kategori kualitas udara, yakni tidak sehat bagi kelompok sensitif, tidak sehat, dan sangat tidak sehat.
Sejumlah wilayah negara tetangga masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif berdasarkan pemetaan tersebut. Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, menjadi salah satu wilayah yang dilaporkan mengalami kualitas udara tidak sehat.
Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan kasus asma hingga 259 persen pada pekan terakhir Agustus. Kondisi tersebut menjadi salah satu dampak kesehatan yang dikaitkan dengan memburuknya kualitas udara di wilayah terdampak.
Dampak kabut asap juga dilaporkan mencapai Manila, Filipina, dengan kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat selama 30 Agustus hingga 2 September 2026. Laporan ASMPH Center for Research and Innovation (ACRI) bersama jaringan Breathe Metro Manila (BMM) menyebut tingkat polusi udara di ibu kota Filipina mencapai lebih dari empat kali lipat ambang yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang melampaui batas wilayah nasional. Pergerakan asap menjadi perhatian karena kualitas udara dapat berubah mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer.
ABC juga mengutip data badan pemantauan kebakaran Kementerian Kehutanan yang mencatat luas lahan terbakar di Indonesia mencapai lebih dari 202.000 hektar sejak awal 2026 hingga Juni. Luas tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan luas wilayah Singapura.
Pada Juli 2026 saja, luas lahan yang terbakar mencapai hampir 95.000 hektar. Lebih dari 73.300 hektar di antaranya berada di Sumatera dan Kalimantan, dengan Kalimantan Barat disebut sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak.
El Nino dan Aktivitas Manusia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Nino berkontribusi terhadap kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran. Namun, kondisi cuaca bukan satu-satunya faktor karena aktivitas manusia juga dapat menjadi pemicu kebakaran.
Kementerian Kehutanan disebut telah mengidentifikasi sejumlah dugaan penyebab kebakaran, termasuk praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Beberapa kasus yang ditemukan berkaitan dengan dugaan penjualan tanah secara ilegal untuk perkebunan kelapa sawit serta pembakaran lahan dalam proses pembersihan area untuk pembangunan jalan berizin.
( sir / sir )
Komentar (0)