Karhutla Kepung Tanah Air, Ratusan Hektare Lahan Ludes Terbakar
- Karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir Agustus 2026, dengan ratusan hektare lahan terdampak di berbagai daerah.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir Agustus 2026, dengan ratusan hektare lahan terdampak di berbagai daerah. Kondisi paling mengkhawatirkan terlihat di Kalimantan karena asap kebakaran bahkan terbawa hingga Sarawak, Malaysia, yang kemudian mengambil langkah menutup sejumlah sekolah untuk melindungi siswa.
Penanganan dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari pemadaman darat, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca (OMC). Pemerintah juga mulai menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan yang dikaitkan dengan kejadian karhutla di beberapa provinsi.
Kalimantan Masih Jadi Titik Panas
Kalimantan Barat
Di Kalimantan Barat, petugas menangani kebakaran melalui operasi udara dan darat. Sekitar 13 hektare lahan telah ditangani melalui water bombing dan operasi modifikasi cuaca, sedangkan penanganan dari darat mencakup 104,8 hektare.
Kementerian Kehutanan juga telah menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan terkait karhutla di wilayah tersebut. Keempat perusahaan itu adalah PT WEL, PT FI, PT MPK, dan PT WSP.
Kalimantan Timur
Di Kalimantan Timur, BPBD mencatat 430 kejadian karhutla hingga pekan lalu dengan luas terdampak mencapai 1.260,92 hektare. Sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan perusahaan, disusul lahan warga dan perkebunan.
“Yang kebakar itu seperti perkebunan, lahan warga, cuma paling banyak merupakan lahan milik perusahaan,” kata Pelaksana Harian Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim Sugeng Priyanto.
Dari total area terdampak di Kalimantan Timur, sekitar 1.197,32 hektare merupakan lahan, 32,84 hektare hutan, dan 30,71 hektare kebun. Kutai Kartanegara menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, sementara kejadian lainnya tercatat di Kutai, Paser, Samarinda, dan Berau.
Kementerian Kehutanan telah menjatuhkan sanksi kepada PT PSR terkait karhutla di Kalimantan Timur. Langkah tersebut menjadi bagian dari penegakan hukum terhadap aktivitas yang berkaitan dengan kebakaran lahan.
Kalimantan Tengah
Di Kalimantan Tengah, terdapat 25 titik api yang masih menjadi perhatian petugas. Penanganan dilakukan melalui water bombing, OMC, serta operasi darat yang hingga Minggu telah menangani 55,63 hektare lahan terbakar.
Kementerian Kehutanan juga menjatuhkan sanksi kepada PT NES terkait karhutla di Kalimantan Tengah. Sementara di Kalimantan Selatan, petugas menangani sekitar 13 hektare lahan melalui operasi udara dan 40,9 hektare melalui operasi darat.
Jambi
Di Jambi, pemantauan menunjukkan terdapat 14 titik panas yang terdeteksi. Operasi water bombing secara kumulatif hingga 23 Agustus telah menangani sekitar 226,9 hektare lahan, sedangkan operasi darat masih dilakukan untuk pemadaman dan pendinginan.
Riau
Kebakaran juga terjadi di Jalan Trans Barelang, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Batam, Kepulauan Riau, pada Sabtu (22/8/2026). Area yang terbakar diperkirakan mencapai 35 hektare dan api dilaporkan berhasil dipadamkan pada Minggu setelah BPBD bersama tim gabungan melakukan pemadaman darat.
Sumatera Utara
Di Sumatera Utara, titik api terpantau di Bukit Sitalmak Talmak, Desa Dolok Raja, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, pada Sabtu (22/8) sekitar pukul 18.00 WIB. Kebakaran diperkirakan melanda lima hektare lahan dan api dilaporkan telah padam setelah ditangani BPBD bersama pemerintah desa serta masyarakat.
Sementara itu, karhutla dengan cakupan lebih luas terjadi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Kebakaran berlangsung sejak 18 Juli hingga 23 Agustus 2026 di tujuh distrik, yakni Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur.
BPBD Kabupaten Nabire mencatat sekitar 396,13 hektare lahan terbakar dengan empat kepala keluarga terdampak. Kondisi panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering disebut menjadi faktor yang memicu meluasnya kebakaran.
“Hingga Minggu, sebagian titik api masih belum dapat dipadamkan karena tidak dapat dijangkau armada pemadam kebakaran,” demikian rilis resmi BNPB.
Pemerintah daerah kini mengidentifikasi kebutuhan tambahan untuk mempercepat penanganan wilayah yang sulit dijangkau dari darat. Dukungan water bombing dan tambahan armada pemadam dinilai diperlukan untuk menjangkau titik api yang masih bertahan.
( sir / sir )
Komentar (0)