14,5 Miliar Porsi! Indonesia Susah Lepas dari Mi Instan?
- Data terbaru World Instant Noodles Association (WINA) menunjukkan Indonesia mengonsumsi sekitar 14,54 miliar porsi mi instan sepanjang 2025
- Jika angka 14,54 miliar porsi itu dibagi sepanjang tahun, konsumsi Indonesia setara dengan hampir 39,8 juta porsi setiap hari
Kecintaan masyarakat Indonesia terhadap mi instan ternyata bukan sekadar anggapan. Data terbaru World Instant Noodles Association (WINA) menunjukkan Indonesia mengonsumsi sekitar 14,54 miliar porsi mi instan sepanjang 2025.
Angka fantastis itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan konsumsi mi instan terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari China dan Hong Kong yang menghabiskan sekitar 43,27 miliar porsi dalam setahun.
Indonesia bahkan berada cukup jauh di atas negara-negara lain. Setelah Indonesia, posisi ketiga ditempati India dengan 9,60 miliar porsi, disusul Vietnam 8,23 miliar porsi dan Jepang 5,95 miliar porsi.
Sementara secara global, sebanyak 124,21 miliar porsi mi instan dikonsumsi sepanjang 2025. Dengan demikian, Indonesia sendiri menyumbang sekitar 11,7 persen dari seluruh konsumsi mi instan dunia.
Jika angka 14,54 miliar porsi itu dibagi sepanjang tahun, konsumsi Indonesia setara dengan hampir 39,8 juta porsi setiap hari.
BPS melalui hasil SUPAS 2025 mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 284,67 juta jiwa.
Jika total konsumsi tersebut sekadar dibagi rata dengan jumlah penduduk, hasilnya setara sekitar 51 porsi per orang per tahun, atau hampir satu bungkus setiap minggu. Perhitungan ini tentu hanya ilustrasi rata-rata karena pola konsumsi setiap orang berbeda-beda.
Menariknya, konsumsi mi instan Indonesia sebenarnya sedikit turun dibanding 2024. WINA mencatat pada 2024 konsumsi mencapai 14,68 miliar porsi, sedangkan pada 2025 menjadi 14,54 miliar porsi atau turun sekitar 140 juta porsi.
Namun bila ditarik lebih jauh, tren konsumsi tetap tinggi: pada 2021 Indonesia menghabiskan 13,27 miliar porsi, naik menjadi 14,26 miliar pada 2022 dan 14,54 miliar pada 2023. Artinya, dibanding 2021, konsumsi pada 2025 masih sekitar 9,6 persen lebih tinggi.
Salah satu alasan mi instan begitu melekat pada masyarakat Indonesia adalah karakter produknya yang dekat dengan selera lokal: praktis, mudah diperoleh, relatif terjangkau, dan memiliki sangat banyak varian rasa.
WINA mencatat mi goreng menjadi jenis yang paling populer di kalangan konsumen Indonesia, sementara rasa sayuran, ayam, dan udang yang dikombinasikan dengan cabai juga banyak dikonsumsi. Produk yang tersedia di Indonesia juga sebagian besar menyesuaikan kebutuhan konsumen Muslim melalui sertifikasi halal.
Besarnya konsumsi ini juga menunjukkan betapa mi instan telah berkembang dari sekadar makanan darurat menjadi bagian dari budaya makan masyarakat.
Mi bisa disantap sebagai makanan utama, camilan, menu anak kos, bekal perjalanan hingga dikreasikan bersama telur, sayuran, bakso, cabai, nasi atau berbagai topping lain.
Harganya yang relatif mudah dijangkau serta waktu memasak yang hanya beberapa menit membuat mi instan sulit tergeser, terutama ketika masyarakat membutuhkan makanan cepat dan praktis.
Namun angka 14,54 miliar porsi juga patut dilihat secara proporsional. Tingginya permintaan tidak berarti setiap warga Indonesia mengonsumsi mi instan dalam jumlah yang sama atau mengonsumsinya setiap hari.
Data WINA merupakan estimasi permintaan nasional dalam jumlah porsi, bukan survei frekuensi konsumsi masing-masing individu.
Karena itu, angka sekitar 51 porsi per orang per tahun hanyalah hasil pembagian matematis terhadap seluruh penduduk dan bukan angka konsumsi aktual untuk setiap orang.
Meski turun tipis dari rekor 14,68 miliar porsi pada 2024, angka 14,54 miliar porsi pada 2025 tetap menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar mi instan terbesar di planet ini.
Dari total 124,21 miliar porsi yang dimakan dunia, lebih dari satu dari setiap sepuluh porsinya berasal dari pasar Indonesia.
Jadi, kalau selama ini mi instan dianggap makanan yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, data terbaru WINA menunjukkan anggapan tersebut memang punya dasar kuat.
Sumber: World Instant Noodles Association (WINA)
( fan / fan )
Komentar (0)