BlackBerry Kini Tak Lagi Jual Ponsel, Beralih ke Robotika

Oleh Virgio Halimawan
BlackBerry Kini Tak Lagi Jual Ponsel, Beralih ke Robotika
  • BlackBerry meninggalkan bisnis smartphone setelah kalah bersaing dengan Android dan iPhone, lalu bertransformasi menjadi perusahaan software yang fokus pada keamanan, komunikasi aman, IoT dan teknologi otomotif.
  • Masa depan BlackBerry kini bertumpu pada QNX dan robotika. QNX telah tertanam di lebih dari 275 juta kendaraan dan memiliki backlog sekitar US$950 juta, sementara perusahaan memperluas pemanfaatannya ke robotika, perangkat medis dan otomatisasi industri.

Nama BlackBerry pernah identik dengan ponsel ber-keyboard fisik, BlackBerry Messenger, serta perangkat yang menjadi simbol komunikasi para profesional. Namun, era kejayaan tersebut berakhir setelah Android dan iPhone mengubah peta industri smartphone dengan layar sentuh dan ekosistem aplikasi yang lebih luas.

Kini, BlackBerry bukan lagi perusahaan yang bertarung di pasar ponsel pintar. Perusahaan asal Kanada tersebut telah mengalihkan fokusnya ke software, keamanan siber, komunikasi aman, Internet of Things (IoT), dan teknologi otomotif. BlackBerry sendiri saat ini menempatkan software sebagai fondasi utama bisnisnya.

Salah satu aset paling penting dalam transformasi tersebut adalah QNX, sistem operasi dan software tertanam yang digunakan pada berbagai sistem kendaraan. Teknologi QNX telah digunakan di lebih dari 275 juta kendaraan di dunia, termasuk untuk fungsi-fungsi yang berkaitan dengan keselamatan dan sistem kendaraan modern.

Dari Smartphone ke Otomotif

QNX menjadi salah satu bukti bahwa BlackBerry tidak benar-benar hilang. Perusahaan justru memindahkan keahliannya dari perangkat yang digunakan manusia ke software yang bekerja di balik berbagai perangkat.

QNX digunakan untuk mendukung sistem kendaraan, mulai dari fungsi keselamatan hingga teknologi yang berkaitan dengan kendaraan semi-otonom. Kini, BlackBerry melihat peluang yang lebih besar di luar industri otomotif, terutama pada robotika, perangkat medis, dan otomatisasi industri.

CEO BlackBerry John Giamatteo mengatakan robotika merupakan salah satu bidang yang mengalami pertumbuhan paling cepat dalam portofolio QNX.

“Kami rasa ini bisa menjadi segmen industri dengan pertumbuhan yang lebih cepat untuk hal-hal seperti robotika.”

Targetnya bukan sekadar robot humanoid yang sedang populer. BlackBerry membidik robot industri seperti sistem otomatisasi gudang, forklift robotik hingga perangkat robotik untuk sektor medis.

Pesanan QNX Capai US$950 Juta

Perubahan strategi tersebut datang ketika perusahaan mulai memperoleh momentum baru di bisnis software. BlackBerry menyebut memiliki backlog QNX sekitar US$950 juta, dengan sebagian di antaranya berasal dari aplikasi robotika.

Pada 2026, saham BlackBerry juga disebut mengalami kenaikan sekitar dua kali lipat, seiring perbaikan margin dan profitabilitas. Perusahaan kini mencoba menempatkan dirinya di tengah pertumbuhan teknologi yang berkaitan dengan AI fisik, kendaraan otonom dan robotika.

Transformasi tersebut memperlihatkan perubahan fundamental model bisnis BlackBerry. Jika dahulu pendapatan bergantung pada penjualan perangkat keras, kini perusahaan lebih banyak mengandalkan software yang tertanam dalam kendaraan, perangkat industri, serta sistem komunikasi yang membutuhkan tingkat keamanan tinggi.

Gandeng Nvidia untuk Robotika

BlackBerry juga memperkuat strategi tersebut melalui kemitraan teknologi. Pada April 2026, perusahaan mengumumkan perluasan kerja sama dengan Nvidia untuk mengintegrasikan software BlackBerry dengan teknologi Nvidia dalam bidang robotika, teknologi medis dan aplikasi industri.

Langkah ini menunjukkan bahwa BlackBerry tidak sekadar mencoba mempertahankan bisnis lama. Perusahaan sedang mencari posisi baru di rantai teknologi masa depan dengan memanfaatkan kompetensi yang sudah dimiliki selama puluhan tahun.

BlackBerry saat ini secara resmi menggambarkan dirinya sebagai penyedia software dan layanan untuk perusahaan serta pemerintah, dengan dua kekuatan utama berupa Secure Communications dan QNX.

CEO BlackBerry melihat perkembangan robotika sebagai peluang besar berikutnya.

“Robotika akan bertransformasi secara masif dan kami sangat antusias menyambut peluang yang ada di depan mata kami.”

Dengan demikian, cerita BlackBerry bukan sekadar kisah perusahaan yang tumbang dilibas Android dan iPhone. Ini juga merupakan kisah tentang bagaimana sebuah perusahaan teknologi mencoba bertahan dengan meninggalkan bisnis yang pernah membesarkan namanya dan membangun masa depan melalui software.

BlackBerry mungkin sudah tidak berada di genggaman pengguna smartphone. Namun, software-nya justru sedang bekerja di balik kendaraan, sistem komunikasi aman, robot dan berbagai perangkat industri.

( vir / vir )

Komentar (0)