Banjir Nepal Tewaskan 469 Orang, Ratusan Masih Hilang
- Banjir bandang Nepal menewaskan sedikitnya 472 orang di Nepal dan Tibet, sementara lebih dari ratusan orang masih dilaporkan hilang.
- Bencana dipicu runtuhnya gletser dan material batuan di kawasan Himalaya yang kemudian memicu aliran air, lumpur, serta puing dalam skala besar.
- Infrastruktur seperti jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah, sementara kondisi geografis Himalaya dan terbentuknya genangan akibat longsoran membuat proses penyelamatan semakin sulit.
JAKARTA — Banjir bandang menerjang wilayah pegunungan Nepal pada Rabu, 26 Agustus 2026, setelah runtuhnya massa es dan batu di kawasan Himalaya memicu aliran air, lumpur, dan material longsoran dalam jumlah besar ke sistem sungai. Bencana tersebut menghantam kawasan di sepanjang Sungai Bhote Koshi dan Trishuli, merusak permukiman, jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik, serta infrastruktur perbatasan Nepal-China.
Hingga pembaruan terbaru pada 28 Agustus, jumlah korban meninggal di Nepal mencapai 469 orang, sementara China melaporkan tiga korban meninggal di wilayah Tibet. Dengan demikian, total korban meninggal di kedua wilayah mencapai sedikitnya 472 orang. Di Nepal, 667 orang masih dinyatakan hilang, sedangkan lebih dari 550 orang dilaporkan belum ditemukan di Tibet.
Pemerintah Nepal sebelumnya mencatat 359 jenazah telah ditemukan pada Kamis malam, dengan 596 warga dari 33 negara masih dilaporkan hilang. Perbedaan angka dalam beberapa pembaruan terjadi karena proses pencarian, identifikasi, dan verifikasi korban masih berlangsung di sejumlah wilayah yang sulit dijangkau.
Gletser Runtuh, Sungai Meluap
Bencana bermula ketika bagian gletser dan material batuan runtuh di kawasan Himalaya. Material tersebut kemudian masuk ke aliran sungai dan menghasilkan banjir bandang yang membawa bongkahan es, batu, lumpur, dan puing dengan kekuatan sangat besar ke wilayah yang berada di bawahnya.
Survei awal menunjukkan bahwa permukaan Sungai Trishuli dapat naik hingga sekitar 9 meter hanya dalam waktu 30 menit setelah material longsoran dan air masuk ke sistem sungai. Kecepatan datangnya gelombang banjir membuat warga di sejumlah lokasi nyaris tidak memiliki waktu untuk melakukan evakuasi.
US Geological Survey (USGS) menyimpulkan bahwa runtuhnya gletser memicu aliran material es dan batu dalam skala besar. Peristiwa tersebut bahkan menghasilkan aktivitas seismik yang pada awalnya sempat membuat bencana disangka berkaitan dengan gempa bumi.
Para ilmuwan juga mengaitkan meningkatnya risiko bencana gletser dengan perubahan iklim. Suhu yang semakin tinggi dapat mempercepat pencairan salju dan es, sekaligus memperlemah kestabilan lingkungan pegunungan tinggi serta meningkatkan potensi longsor, runtuhnya gletser dan banjir terkait danau glasial.
Ratusan Wisatawan dan Peziarah Hilang
Besarnya korban juga berkaitan dengan posisi kawasan bencana yang berada di jalur perjalanan menuju wilayah Himalaya dan Tibet. Banyak wisatawan, pendaki, serta peziarah yang tengah melakukan perjalanan menuju kawasan suci Kailash Mansarovar berada di sekitar jalur yang terdampak.
Departemen Pariwisata Nepal sebelumnya melaporkan 668 wisatawan dari 34 negara kehilangan kontak sejak Rabu pagi. Mereka antara lain berasal dari India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, dan China.
Situasi tersebut membuat pencarian korban tidak hanya menjadi persoalan domestik Nepal, tetapi juga melibatkan perhatian pemerintah berbagai negara yang warganya berada dalam daftar orang hilang.
Infrastruktur Hancur, Jalur Perbatasan Lumpuh
Selain menelan korban jiwa, banjir bandang menghancurkan infrastruktur penting di kawasan Himalaya. Puluhan jembatan dan sekitar 40 kilometer jalan dilaporkan rusak atau hancur, sementara fasilitas pembangkit listrik dan jalur perdagangan turut terdampak.
Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan berat adalah kawasan perbatasan Gyirong, yang menjadi jalur penting antara Nepal dan Tibet. Kerusakan tersebut berpotensi mengganggu mobilitas penduduk sekaligus aktivitas perdagangan lintas perbatasan.
Pemerintah Nepal mengerahkan aparat keamanan, militer, helikopter, tenaga medis dan peralatan berat untuk melakukan pencarian serta evakuasi. Hingga Jumat, otoritas Nepal melaporkan 3.253 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter dari kawasan terdampak.
Ancaman Banjir Susulan
Upaya penyelamatan juga menghadapi ancaman bencana lanjutan. Material longsoran yang menyumbat aliran sungai membentuk genangan atau danau baru, sehingga terdapat risiko air kembali meluap dan menghasilkan banjir susulan.
China memperkirakan sebuah danau yang terbentuk akibat material longsoran menampung sekitar 2 juta meter kubik air dan berpotensi menerima tambahan sekitar 3 juta meter kubik dalam beberapa hari. Kondisi tersebut membuat otoritas kedua negara meningkatkan pemantauan terhadap aliran sungai dan meminta masyarakat di wilayah berisiko menjauh dari zona rawan.
Pemerintah Nepal menyatakan seluruh sumber daya yang tersedia dikerahkan untuk operasi pencarian, penyelamatan, evakuasi, bantuan medis dan penanganan korban. Pemerintah juga menegaskan bahwa kondisi sungai serta potensi banjir susulan terus dipantau.
( vir / vir )
Komentar (0)