18 Tersangka Pembunuhan Presiden Haiti Dipindahkan ke AS
- Departemen Kehakiman AS menyebut mereka dibawa ke South Florida untuk menghadapi dakwaan federal terkait konspirasi pembunuhan Moïse.
- Jovenel Moïse tewas ditembak di kediaman pribadinya di Port-au-Prince pada 7 Juli 2021. Istrinya, Martine Moïse, juga terluka dalam serangan tersebut.
JAKARTA — Kasus pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moïse kembali menjadi sorotan setelah 18 tersangka dipindahkan dari Haiti ke Amerika Serikat pada 20 September 2026 untuk menghadapi proses hukum di Florida.
Departemen Kehakiman AS menyebut mereka dibawa ke South Florida untuk menghadapi dakwaan federal terkait konspirasi pembunuhan Moïse.
Jovenel Moïse tewas ditembak di kediaman pribadinya di Port-au-Prince pada 7 Juli 2021. Istrinya, Martine Moïse, juga terluka dalam serangan tersebut.
Menurut bukti yang dipaparkan dalam persidangan AS, kelompok yang menyerang kediaman Moïse melibatkan mantan tentara Kolombia dan sejumlah sekutu Haiti.
Investigasi AS menemukan bahwa rencana tersebut sebelumnya mengalami beberapa perubahan, dari rencana penculikan hingga akhirnya berubah menjadi rencana pembunuhan.
Perkembangan terbaru ini terjadi setelah 17 mantan tentara Kolombia dan Joseph Badio, mantan pegawai Kementerian Kehakiman Haiti, dipindahkan ke Amerika Serikat.
Badio merupakan salah satu tokoh penting dalam perkara tersebut dan telah ditahan di Haiti sejak Oktober 2023.
Sejumlah terdakwa lain sebelumnya juga telah menjalani proses hukum di AS, sementara proses peradilan di Haiti berjalan jauh lebih lambat akibat kondisi keamanan dan krisis kelembagaan.
Jaksa AS Jason A. Reding Quiñones mengatakan pemindahan tersebut menjadi tahap baru dalam upaya mengungkap seluruh jaringan yang berada di balik pembunuhan Moïse.
“Kami akan mengikuti bukti ke mana pun bukti itu membawa kami, kepada mereka yang membiayai, memfasilitasi, mendukung, atau melakukan kejahatan yang memungkinkan pembunuhan itu terjadi,” ujar Quiñones dalam pernyataan Departemen Kehakiman AS.
Ia menegaskan bahwa lima tahun setelah pembunuhan tersebut, proses penegakan hukum masih terus berjalan.
Kasus ini bahkan telah menghasilkan putusan hukum di Amerika Serikat. Pada 8 Mei 2026, juri federal di Miami menyatakan empat orang bersalah karena peran mereka dalam konspirasi untuk membunuh Moïse.
Keempatnya adalah Arcangel Pretel Ortiz, Antonio Intriago, Walter Veintemilla, dan James Solages.
Menurut Departemen Kehakiman AS, mereka menghadapi hukuman hingga penjara seumur hidup. Jaksa menilai konspirasi tersebut berkaitan dengan ambisi politik dan kepentingan memperoleh kontrak bisnis di Haiti setelah pemerintahan Moïse digulingkan.
Dalam persidangan tersebut, jaksa AS menyatakan kelompok konspirator merekrut sejumlah orang di Amerika Serikat, Kolombia, dan Haiti.
Mereka disebut melibatkan 22 mantan tentara Angkatan Darat Kolombia, serta memperoleh senjata, amunisi, perlengkapan taktis dan dukungan lainnya.
Bukti digital yang dipresentasikan di pengadilan juga menunjukkan adanya komunikasi selama berbulan-bulan mengenai berbagai rencana untuk menculik atau membunuh Moïse.
Namun, perkara ini belum selesai. Jaksa AS menyebut 30 orang telah didakwa terkait pembunuhan tersebut, sedangkan 18 orang yang dipindahkan ke AS kini akan menghadapi proses hukum di pengadilan federal Florida.
Di sisi lain, pemerintah Haiti mengakui bahwa proses peradilan domestik menghadapi hambatan serius dan hingga kini, lima tahun setelah pembunuhan, belum menghasilkan persidangan.
Pemindahan 18 tersangka ke AS menjadi perkembangan besar karena perkara tersebut kini semakin banyak ditangani melalui sistem peradilan Amerika.
Kasus pembunuhan Jovenel Moïse tetap menjadi salah satu titik penting dalam krisis politik dan keamanan Haiti yang semakin memburuk sejak 2021.
Sumber: Reuters, AP
( fan / fan )
Komentar (0)