Suhu Laut Melonjak, Efek El Nino Diprediksi Hingga 2027!

Oleh Ahmad ZF
Suhu Laut Melonjak, Efek El Nino Diprediksi Hingga 2027!
  • BMKG merilis peringatan dini terkait anomali iklim El Nino yang diproyeksikan terus bertahan melanda Indonesia hingga kuartal pertama tahun 2027.
  • Fenomena pergeseran cuaca ini memicu kemarau panjang yang berdampak pada defisit curah hujan ekstrem di lebih dari separuh luas daratan Indonesia.
  • Pemerintah meminta seluruh elemen masyarakat untuk mulai melakukan penyesuaian kalender tanam pertanian dan menghemat penggunaan sumber daya air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merilis peringatan siaga mengenai anomali iklim El Nino yang diprediksi memicu penundaan musim hujan hingga menembus kuartal pertama tahun 2027. Pergeseran pola cuaca skala global ini berdampak langsung pada 529 zona musim atau sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia yang kini harus menghadapi ancaman kemarau panjang.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," tegas Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers, Selasa (22/92026).

Pemantauan suhu muka laut di kawasan perairan Samudra Pasifik pada akhir Agustus menunjukkan angka anomali mencapai plus 2,83 yang secara teknis menandakan intensitas El Nino sangat kuat. Kondisi perairan tersebut diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole di sekitar perairan Indonesia yang terus bergerak aktif menuju fase positif hingga akhir tahun kalender ini.

Penundaan jadwal curah hujan ini mengakibatkan sebagian besar wilayah kepulauan nusantara baru akan memasuki fase musim basah secara merata pada rentang bulan November dan Desember mendatang. Durasi rentang waktu musim penghujan tersebut diproyeksikan berjalan jauh lebih pendek dari rata-rata klimatologis pada 482 zona yang mencakup lebih dari separuh luas daratan Indonesia.

“Meski diprediksi lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM (69,76% luas daratan Indonesia),” papar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan. “Perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55% luas daratan Indonesia) karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69%) diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pengawasan lapangan secara nasional, dampak ketiadaan presipitasi telah meluas hingga menyentuh angka lebih dari enam puluh hari di dua puluh lima provinsi. Wilayah Kabupaten Bantul saat ini menduduki posisi puncak klasemen wilayah terdampak dengan memegang rekor hari tanpa hujan terpanjang yang mencapai seratus tiga puluh satu hari beruntun.

“Bahkan El Niño 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” jelas Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab. “Sebanyak 556 ZOM yang mencakup 61,91% dari luas daratan Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau.”

Sektor pertanian pangan dituntut untuk segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas bibit unggul bersiklus pendek demi mengamankan angka produksi panen nasional. Manajemen tata kelola sumber daya air juga harus memprioritaskan pengaturan elevasi sirkulasi waduk untuk menjamin keberlangsungan pasokan operasional turbin pembangkit listrik tenaga air.

"Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan," ungkapnya.

Ancaman penurunan kualitas udara akibat mundurnya jadwal hujan menuntut partisipasi masyarakat untuk membenahi sistem sirkulasi ventilasi di dalam ruangan masing-masing. Tindakan pencegahan penyebaran nyamuk melalui program larvasidasi harus segera digalakkan sebelum genangan air sisa hujan memicu lonjakan wabah demam berdarah di berbagai fasilitas kesehatan.

Seluruh pemangku kebijakan di tingkat daerah diinstruksikan untuk menggunakan rilis data prakiraan musim BMKG ini sebagai landasan dasar penyusunan mitigasi bencana ke depan. Masyarakat luas turut ditekankan untuk terus memantau informasi iklim melalui saluran komunikasi resmi lembaga guna menghindari peredaran spekulasi cuaca yang tidak memiliki bukti berdasar.

( ahm / ahm )

Komentar (0)