Bekasi Masuk Zona Merah, Kemarau Panjang Mengintai

Oleh f.andrian
Bekasi Masuk Zona Merah, Kemarau Panjang Mengintai
  • BMKG mencatat sejumlah wilayah di Pulau Jawa mengalami periode hari tanpa hujan kategori panjang hingga ekstrem, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan
  • Selain faktor musim, kondisi iklim global seperti fenomena El Niño juga dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia

Bekasi menjadi salah satu wilayah yang perlu mewaspadai dampak musim kemarau panjang setelah masuk dalam daerah dengan risiko kekeringan tinggi atau zona merah kekeringan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sejumlah wilayah di Jawa mengalami hari tanpa hujan yang cukup panjang, bahkan beberapa titik berpotensi mengalami kekeringan lebih dari 60 hari atau sekitar dua bulan.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya curah hujan dalam periode panjang yang membuat cadangan air permukaan maupun air tanah semakin berkurang.

BMKG mencatat sejumlah wilayah di Pulau Jawa mengalami periode hari tanpa hujan kategori panjang hingga ekstrem, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan.

Pemerintah Kabupaten Bekasi sebelumnya juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kemarau lebih kering dari kondisi normal.

Berdasarkan informasi pemerintah daerah, sebagian wilayah diprediksi mengalami kondisi lebih kering dengan puncak musim kemarau terjadi pada periode Juli hingga September.

BMKG menjelaskan bahwa kekeringan meteorologis tidak hanya dilihat dari panasnya suhu udara, tetapi berdasarkan kondisi curah hujan yang jauh di bawah normal dalam periode tertentu.

“Zona musim dengan hari tanpa hujan kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari terdapat di sejumlah titik pengamatan yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.” kata Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani.

Dampak kekeringan dapat dirasakan langsung masyarakat, mulai dari berkurangnya debit sumber air, kesulitan mendapatkan air bersih, hingga ancaman terhadap sektor pertanian.

Wilayah yang bergantung pada sumber air alami menjadi kelompok yang paling rentan ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.

Selain faktor musim, kondisi iklim global seperti fenomena El Niño juga dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca kering perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko kekurangan air serta potensi kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait mulai menyiapkan langkah antisipasi, seperti pemantauan wilayah rawan kekeringan, distribusi air bersih, hingga imbauan penghematan penggunaan air.

Kepala BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi kondisi kering yang masih berpotensi berlangsung.

“Masyarakat dan pemerintah daerah perlu melakukan langkah mitigasi sejak dini menghadapi potensi dampak musim kemarau.” Ucapnya

Dengan potensi kekeringan yang dapat berlangsung hingga lebih dari dua bulan, warga Bekasi dan wilayah terdampak lainnya perlu meningkatkan kewaspadaan.

Kekeringan bukan hanya persoalan cuaca panas, tetapi juga menyangkut ketersediaan air, ketahanan pangan, serta aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sumber daya air.

Sumber: BMKG

( fan / fan )

Komentar (0)