El Niño Menggila, Musim Hujan Indonesia Mundur

Oleh f.andrian
El Niño Menggila, Musim Hujan Indonesia Mundur
  • Musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat dari biasanya, sementara durasinya juga cenderung lebih pendek.
  • BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa kabar yang perlu diwaspadai menjelang penghujung 2026.

Musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat dari biasanya, sementara durasinya juga cenderung lebih pendek.

BMKG mencatat sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis.

Kondisi tersebut terutama dipicu oleh kombinasi fenomena El Niño yang saat ini berada dalam kategori sangat kuat dan perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia.

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Agustus 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,83, dengan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September sebesar +2,63. Angka itu menunjukkan El Niño berada pada level sangat kuat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan dua fenomena tersebut sama-sama berpengaruh terhadap berkurangnya pembentukan hujan di Indonesia.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal.

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.

Sebanyak 185 ZOM yang mencakup sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada November, sedangkan 266 ZOM lainnya mulai memasuki musim penghujan pada Desember.

Wilayah yang terdampak tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga sebagian Papua.

Tak hanya terlambat datang, musim hujan kali ini juga diperkirakan lebih cepat berakhir. BMKG memproyeksikan sebanyak 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia akan mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek dibandingkan kondisi normal.

Sebaliknya, hanya 60 ZOM atau 8,58 persen wilayah yang diperkirakan memiliki musim hujan lebih panjang, sementara 40 ZOM diprediksi memiliki durasi yang relatif sama dengan normalnya.

Meski durasinya lebih pendek, hal itu bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami hujan jauh di bawah normal.

BMKG memprediksi sifat musim hujan 2026/2027 masih tergolong normal pada 510 ZOM atau sekitar 69,76 persen luas daratan Indonesia.

Sebanyak 147 ZOM atau 18,55 persen wilayah bahkan diprakirakan lebih basah dari normal, sementara 42 ZOM atau 11,69 persen wilayah diperkirakan mengalami kondisi lebih kering.

Puncak musim hujan juga tidak berlangsung seragam. Sebanyak 155 ZOM diprediksi mencapai puncak hujan pada Desember 2026, kemudian 162 ZOM pada Januari 2027 dan 190 ZOM pada Februari 2027.

BMKG juga mencatat dampak El Niño sudah terlihat pada musim kemarau tahun ini, termasuk 98 ZOM yang secara klimatologis biasanya basah sepanjang tahun tetapi pada 2026 justru ikut mengalami musim kemarau.

Prediksi tersebut menjadi sinyal agar pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air hingga masyarakat bersiap menghadapi periode kering yang lebih panjang sebelum hujan benar-benar meluas.

Di sisi lain, BMKG tetap mengingatkan risiko bencana hidrometeorologi ketika musim penghujan mulai aktif, terutama pada periode November-Desember 2026.

Artinya, meski musim hujan datang terlambat dan lebih singkat, potensi hujan lebat, banjir, longsor hingga cuaca ekstrem tetap perlu diantisipasi di daerah yang memasuki puncak musim penghujan.

Sumber: BMKG RI, ANTARA

( fan / fan )

Komentar (0)