Matahari Lagi Ganas, Suhu RI Sentuh 38,6°C!
- Suhu maksimum tertinggi awal September 2026 tercatat mencapai 38,6°C pada 1 September 2026 di Stasiun Meteorologi Tebelian, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat
- BMKG mencatat sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih mengalami periode kemarau, dengan curah hujan rendah hingga menengah
JAKARTA — Indonesia kembali menghadapi periode cuaca panas ekstrem.
Memasuki awal September 2026, sejumlah wilayah mengalami peningkatan suhu maksimum harian hingga mencapai 38,6 derajat Celsius, di tengah kondisi musim kemarau yang masih mendominasi sebagian besar wilayah Tanah Air.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi panas ini terjadi akibat kombinasi minimnya tutupan awan, atmosfer kering, serta pengaruh dinamika iklim global.
Berdasarkan pemantauan BMKG, suhu maksimum tertinggi pada awal September 2026 tercatat mencapai 38,6°C pada 1 September 2026 di Stasiun Meteorologi Tebelian, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Angka tersebut menjadi salah satu suhu tertinggi yang tercatat sepanjang periode kemarau tahun ini. Sebelumnya, pada akhir Agustus 2026, suhu maksimum juga mencapai 37,9°C di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Selain Kalimantan Barat, sejumlah wilayah lain juga mencatat suhu tinggi.
Pada periode 8-9 September 2026, BMKG mencatat beberapa daerah dengan suhu maksimum tertinggi, di antaranya Stasiun Meteorologi Kalimarau, Kalimantan Timur sebesar 37,8°C, Kasiguncu 37°C, Aceh 36,9°C, serta beberapa wilayah lain di atas 35°C.
Kondisi ini menunjukkan wilayah Indonesia bagian barat dan timur sama-sama mengalami tekanan panas akibat musim kemarau.
BMKG menjelaskan, tingginya suhu udara bukan berarti Indonesia sedang mengalami fenomena gelombang panas seperti yang terjadi di beberapa negara subtropis.
Kondisi panas di Indonesia lebih dipengaruhi oleh faktor lokal, seperti radiasi matahari yang kuat akibat minimnya awan dan rendahnya kelembapan udara.
“Minimnya tutupan awan selama musim kemarau, khususnya pada pagi hingga siang hari, dapat meningkatkan intensitas pemanasan permukaan dan mendorong kenaikan suhu udara maksimum.” ungkap laporan BMKG.
Memasuki September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam fase musim kemarau.
BMKG mencatat sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih mengalami periode kemarau, dengan curah hujan rendah hingga menengah.
Kondisi kering tersebut membuat beberapa daerah lebih rentan mengalami suhu tinggi, kekeringan, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Selain faktor musim, BMKG juga mengaitkan kondisi panas dengan pengaruh fenomena iklim global seperti El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berkontribusi mengurangi suplai uap air ke atmosfer Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
“Masyarakat diimbau untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh,” tulis BMKG.
Meski suhu panas masih mendominasi, BMKG mengingatkan bahwa hujan lokal tetap dapat terjadi di sejumlah daerah akibat dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, serta faktor topografi.
Artinya, Indonesia dapat mengalami kombinasi cuaca ekstrem: sebagian wilayah mengalami panas dan kering, sementara wilayah lain masih berpotensi hujan lebat dalam waktu singkat.
Dengan suhu mencapai 38,6°C, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas, mulai dari risiko dehidrasi, penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan, hingga ancaman kekeringan di sejumlah wilayah.
BMKG meminta masyarakat terus mengikuti informasi resmi cuaca melalui kanal BMKG karena kondisi atmosfer masih sangat dinamis sepanjang periode kemarau 2026.
Sumber: BMKG, detikhealth
( fan / fan )
Komentar (0)