Stasiun Bogor Dibenahi Besar-besaran, Ini yang Berubah
- Stasiun Bogor merupakan stasiun dengan pergerakan pengguna Commuter Line tertinggi di Jabodetabek pada semester I 2026
- Transformasi Stasiun Bogor diproyeksikan lebih luas daripada sekadar urusan peron. KAI dan Pemkot Bogor menyiapkan konsep pengembangan berbasis konektivitas, identitas, dan spasialitas
Stasiun Bogor sedang mengalami perubahan besar yang bakal langsung terasa bagi pengguna KRL.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) meningkatkan kapasitas peron, memperluas area yang terlindung kanopi, serta menata akses antarperon dan koneksi menuju Stasiun Bogor Paledang.
Pengembangan ini kembali ditegaskan setelah KAI dan Pemerintah Kota Bogor menandatangani nota kesepahaman penataan kawasan Stasiun Bogor pada 7 September 2026.
Pembenahan ini bukan tanpa alasan. Stasiun Bogor merupakan stasiun dengan pergerakan pengguna Commuter Line tertinggi di Jabodetabek pada semester I 2026.
KAI mencatat 18.451.462 pergerakan pelanggan selama Januari–Juni, terdiri dari 9.371.057 penumpang masuk dan 9.080.405 penumpang keluar. Sementara Bogor Line secara keseluruhan melayani sekitar 78,08 juta pelanggan pada periode yang sama.
Perubahan paling terasa ada di peron jalur 6, 7, dan 8. Ketiganya diperpanjang agar bisa melayani KRL dengan formasi 12 kereta atau SF12, setelah sebelumnya kapasitas peron tersebut lebih terbatas.
Proyek yang dimulai pada 15 April itu telah selesai dan jalur 6, 7, serta 8 mulai kembali melayani penumpang pada 15 Juli 2026. Dengan pembenahan tersebut, seluruh jalur di Stasiun Bogor kini sudah dapat melayani rangkaian SF12.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memastikan hasil pengerjaan itu sudah bisa dinikmati masyarakat.
“Sekarang itu peron 6, 7, 8 peronnya sudah panjang dan sudah ada kanopinya,” ujar Bobby.
Menurut KAI, peningkatan tersebut berpotensi menambah kapasitas angkut harian sekitar 30 persen dibandingkan sebelumnya, terutama ketika penggunaan rangkaian SF12 semakin optimal.
Setelah jalur 6–8 selesai, perhatian beralih ke peron jalur 4 dan 5 yang ditambah kanopi, sementara kanopi jalur 2 dan 3 juga direncanakan diperpanjang.
KAI menyebut kanopi jalur 2 dan 3 yang sebelumnya hanya menaungi sekitar lima kereta akan dibuat cukup panjang untuk melindungi seluruh rangkaian SF12. Artinya, penumpang tidak perlu lagi berebut titik tertentu di peron hanya supaya terlindung dari hujan atau panas.
Ada pula perubahan penting terkait crossing atau akses penyeberangan rel. Perlu diluruskan, arahnya bukan menambah penyeberangan sebidang bagi penumpang, melainkan mengurangi hingga menutup crossing langsung di atas jalur rel dan mengalihkan pergerakan melalui akses yang lebih aman.
Rencana KAI mencakup pemasangan eskalator menuju skybridge yang menghubungkan Stasiun Bogor dengan Stasiun Bogor Paledang, sehingga perpindahan penumpang tidak lagi bergantung pada melintas langsung di jalur kereta.
Seluruh perubahan tersebut juga melalui proses pengujian sebelum digunakan. Peron jalur 6–8 menjalani uji beban menggunakan lokomotif, uji coba operasional KRL, hingga pengujian terpadu terhadap prasarana, sarana, kelistrikan, dan pola operasi.
“Dengan pengoperasian jalur ini, seluruh jalur di Stasiun Bogor sudah bisa melayani rangkaian Commuter Line SF12.” ucap VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda.
Transformasi Stasiun Bogor bahkan diproyeksikan lebih luas daripada sekadar urusan peron. KAI dan Pemkot Bogor menyiapkan konsep pengembangan berbasis konektivitas, identitas, dan spasialitas.
Bangunan bersejarah Stasiun Bogor yang berasal dari 1881 akan tetap menjadi bagian penting wajah kawasan, sementara integrasi dengan Trans Pakuan, transportasi daring, ruang publik hingga kawasan ekonomi berbasis Transit Oriented Development (TOD) ikut disiapkan. Pada sisi selatan, KAI juga merencanakan zona khusus pick-up dan drop-off.
Bagi masyarakat, inti perubahan Stasiun Bogor akhirnya cukup sederhana: kereta bisa lebih panjang, penumpang bisa terdistribusi lebih baik, area tunggu makin terlindung, dan perpindahan antarstasiun dibuat lebih aman.
Revitalisasi ini juga menjadi fondasi pengembangan jaringan lebih jauh karena KAI menargetkan elektrifikasi KRL hingga Cigombong pada 2027, sebagai tahapan menuju rencana jangka panjang layanan KRL sampai Sukabumi.
Jadi, wajah baru Stasiun Bogor bukan sekadar renovasi fisik, tetapi persiapan menghadapi mobilitas warga Bogor yang terus membesar.
Sumber: KAI, ANTARA
( fan / fan )
Komentar (0)