Pipa Saudi Diserang, Minyak Dunia Terancam Makin Mahal
- Efek terhadap harga minyak sudah terasa, harga minyak Brent pada Jumat, 11 September, ditutup di 104 dollar per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di 100 dollar per barel
- International Energy Agency (IEA) mencatat suplai minyak mentah Saudi pada Agustus turun sekitar 2,3 juta barel per hari menjadi 6 juta barel per hari, level terendah dalam lebih dari tiga dekade
JAKARTA — Pasar energi dunia kembali mendapat pukulan setelah jalur pipa minyak East-West Arab Saudi diserang dan dihentikan sementara.
Kementerian Energi Saudi mengonfirmasi jalur tersebut menjadi sasaran beberapa serangan pada Kamis pagi, 10 September 2026, di wilayah Riyadh dan Madinah.
Sejumlah orang dilaporkan terluka, sementara tim darurat dan teknis langsung diterjunkan untuk mengamankan instalasi serta memeriksa kerusakan.
Pemerintah Saudi menyebut penghentian dilakukan sebagai langkah pencegahan sembari memastikan keamanan sistem sebelum operasi dilanjutkan.
Serangan ini sangat sensitif bagi pasar minyak karena East-West Pipeline atau Petroline merupakan salah satu urat nadi ekspor Saudi.
Jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut membentang melintasi Jazirah Arab menuju pantai Laut Merah sehingga minyak Saudi dapat diekspor tanpa melewati Selat Hormuz.
Dalam beberapa bulan terakhir, pipa itu mengalirkan sekitar 4-5 juta barel per hari, setara sekitar 4-5 persen pasokan minyak dunia. Kapasitas maksimalnya bahkan mencapai sekitar 7 juta barel per hari, menurut Saudi Aramco.
Nilai strategis jalur tersebut semakin besar karena arus tanker melalui Selat Hormuz sudah mengalami gangguan serius akibat konflik di kawasan.
Sebelum perang terbaru, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair harian dunia melewati Hormuz. Karena rute itu terganggu, Saudi mengandalkan East–West Pipeline untuk mengalihkan minyak menuju terminal di Laut Merah.
Artinya, ketika jalur alternatif tersebut ikut terkena serangan, pasar menghadapi risiko gangguan secara bersamaan pada dua pintu utama aliran energi Timur Tengah.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada 12 September menyatakan drone yang menyerang pipa tersebut datang dari wilayah Irak.
Riyadh sejauh ini memilih tidak langsung melakukan serangan balasan setelah pemerintah Irak meminta kesempatan menangani persoalan tersebut.
“Kerajaan memilih untuk tidak merespons pada tahap ini dan mendukung upaya pemerintah Irak.” kata Pemerintah Saudi.
Riyadh, bagaimanapun, menegaskan tetap memiliki hak mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan, keamanan, fasilitas vital, serta penduduknya.
Efek terhadap harga minyak sudah terasa. Harga minyak Brent pada Jumat, 11 September, ditutup di US$104,61 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$100,05 per barel.
Meski keduanya turun pada perdagangan hari itu karena muncul kabar mengenai kemungkinan pembicaraan diplomatik terkait Hormuz, harga minyak tetap menuju kenaikan mingguan lebih dari 8 persen.
Reuters mencatat kekhawatiran atas serangan terhadap jalur energi dan rute pelayaran Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mempertahankan premi risiko pada harga minyak.
Analis energi UBS Giovanni Staunovo menilai risiko harga masih condong ke arah kenaikan meskipun pasar bergerak sangat volatil.
“Saya masih melihat risiko jangka pendek terhadap kenaikan harga minyak, tetapi kita juga harus bersiap menghadapi volatilitas harga yang tetap tinggi.” ucap Staunovo.
Pernyataan tersebut menggambarkan dilema pasar saat ini, setiap kabar diplomasi dapat menekan harga sementara, tetapi serangan baru terhadap infrastruktur minyak bisa dengan cepat mendorong harga kembali melonjak.
Tekanan juga diperbesar oleh kondisi pasokan Saudi sendiri. International Energy Agency (IEA) mencatat suplai minyak mentah Saudi pada Agustus turun sekitar 2,3 juta barel per hari menjadi 6 juta barel per hari, level terendah dalam lebih dari tiga dekade.
Di tengah serangan terhadap fasilitas energi dan jalur pelayaran kawasan. Pada saat bersamaan, kelompok Houthi yang didukung Iran juga memperluas pengaruhnya di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis menuju Laut Merah.
Kombinasi gangguan di Hormuz, ancaman di Bab el-Mandeb, serta berhentinya East-West Pipeline membuat ruang aman bagi distribusi minyak Timur Tengah semakin sempit.
Jika penghentian pipa berlangsung lama atau serangan terhadap fasilitas energi kembali terjadi, risiko harga minyak dunia semakin mahal akan membesar.
Persoalannya bukan hanya hilangnya beberapa juta barel pasokan, tetapi juga meningkatnya premi risiko geopolitik, biaya pengiriman, asuransi tanker, serta kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur energi.
Dampaknya bisa merembet ke harga bensin dan diesel, ongkos transportasi, biaya produksi hingga inflasi di berbagai negara.
Karena itu, perkembangan perbaikan East-West Pipeline serta situasi di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb akan menjadi tiga indikator utama yang menentukan apakah minyak bisa kembali stabil atau justru bertahan di atas US$100 per barel.
Sumber: Saudi Press Agency, Reuters
( fan / fan )
Komentar (0)