Mitra SPPG Enggan Disalahkan Sendiri Soal Keracunan MBG

Oleh Sir Arafat
Mitra SPPG Enggan Disalahkan Sendiri Soal Keracunan MBG
  • mitra SPPG justru mempertanyakan korban
  • yang tetap menyantap makanan meski
  • disebut sudah mengetahui makanan tersebut berbau

Sebanyak 173 siswa dan guru SMP di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Tana Toraja, mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru mempertanyakan korban yang tetap menyantap makanan meski disebut sudah mengetahui makanan tersebut berbau.

Para korban berasal dari SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale, dengan keluhan gangguan pencernaan yang muncul secara bertahap sejak Kamis (3/9/2026). Hingga Jumat (4/9) pukul 20.30 Wita, mereka tercatat mendapat penanganan di tiga rumah sakit dan tiga puskesmas dengan keluhan mual, muntah, pusing, hingga diare.

Di RS Sinar Kasih terdapat 50 pasien, terdiri dari 42 orang yang telah diperbolehkan menjalani rawat jalan dan delapan orang masih menjalani rawat inap. Sementara itu, RSUD Lakipapada menangani 84 pasien, dengan 79 orang rawat jalan dan lima orang masih dirawat.

Menu MBG yang dibagikan kepada siswa terdiri dari ayam masak kuning, tempe goreng tepung, tumis labu siam, wortel dan jagung, serta buah melon. Makanan tersebut disediakan oleh SPPG Makale Batupapan 1.

Kasus dugaan keracunan kemudian dibahas dalam RDP DPRD Tana Toraja pada Jumat (4/9). Pertemuan itu dihadiri unsur Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kendari, pengelola SPPG Makale Batupapan 1, yayasan mitra SPPG, serta orang tua siswa.

Perwakilan Yayasan Magnolia Champaca Virginiana, Louice Cristiana, membantah pihaknya menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab atas kasus tersebut. Dia mengatakan penyediaan makanan telah dilakukan bersama unsur BGN dengan mengikuti prosedur operasional yang ditetapkan.

"Kami tidak bermaksud untuk membela diri sama sekali tapi saya menyampaikan tanggung jawab ini dengan kapasitas kami sebagai mitra bersama-sama dengan 3 orang BGN ya, termasuk dari yayasan kami melakukan SOP penentuan standar bahkan sudah berdiskusi dengan kepala SPPG," kata Louice.

Louice kemudian mengaku menerima informasi mengenai adanya makanan yang disebut sudah berbau tetapi tetap disantap oleh siswa. Pernyataan itu disampaikan saat dia menjelaskan bahwa pihaknya menganggap kondisi tersebut berada di luar kendali mitra.

"Itu yang terjadi, setelah itu baru kita distribusikan ke sekolah. Nah, ada berbagai informasi yang katanya mau makan sudah busuk, kalau sudah tahu bau, kenapa dimakan?" cetusnya.

Dia menambahkan pihak yayasan memahami persoalan yang terjadi dan siap melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan di internal SPPG. Dia juga menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut meski menilai pihaknya telah menjalankan SOP.

"Kami sangat memahami kondisi ini, kami ini betul-betul di luar kendali kami makanya kami siap salah, siap memperbaiki, mungkin membenahi ke dalam, walaupun memang kami sudah melakukan SOP," jelasnya.

"Kami orang-orang yang berintegritas, berdisiplin tinggi dalam bekerja di dapur kami. Kembali lagi terkait kondisi ini saya sebagai mitra yayasan memohon maaf yang sebesar-besarnya, betul-betul di luar kendali kami," paparnya.

Dia berharap kasus tersebut tidak berkembang menjadi ajang saling menyalahkan dan semua pihak dapat berfokus pada evaluasi serta perbaikan penyelenggaraan MBG. Menurut dia, kerja sama diperlukan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

"Jangan saling mencari kesalahan, mari bersama-sama mencari solusi," imbuhnya.

( sir / sir )

Komentar (0)