KRL Rangkasbitung Naik Kelas, Rangkaian Baru Segera Masuk!
- PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah menyiapkan tambahan armada KRL baru untuk memperkuat layanan Jabodetabek, khususnya jalur Green Line atau Rangkasbitung
- Dengan rangkaian lebih panjang dan headway lebih pendek, kapasitas angkut penumpang setiap jam diharapkan meningkat
Kabar baik datang untuk para pengguna KRL Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah menyiapkan tambahan armada KRL baru untuk memperkuat layanan Jabodetabek, dengan Green Line atau Rangkasbitung Line menjadi salah satu koridor yang mendapat perhatian khusus.
Penambahan armada ini dibarengi rencana meningkatkan kapasitas rangkaian menjadi 12 kereta dalam satu perjalanan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan masih ada sejumlah rangkaian baru yang dipersiapkan untuk masuk secara bertahap hingga 2027.
“Masih ada 9 train set yang sedang disiapkan beroperasi bertahap sampai tahun 2027. Ini untuk penambahan kapasitas Jabodetabek, khususnya green line,” ujar Anne.
Namun, masuknya rangkaian berkapasitas lebih besar tidak semudah sekadar menambah kereta. Saat ini, lintas Tanah Abang-Rangkasbitung masih memiliki keterbatasan pasokan listrik sehingga layanan lebih banyak mengandalkan rangkaian dengan stamformasi 8 dan 10 kereta.
KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) dan PLN karena itu tengah menyiapkan peningkatan kapasitas listrik agar rangkaian SF12 atau 12 kereta dapat beroperasi optimal.
Anne menegaskan peningkatan prasarana tersebut menjadi kunci sebelum kapasitas Green Line bisa dinaikkan.
“Saat ini yang sedang disiapkan oleh KAI dan DJKA adalah menambah kapasitas listrik. Supaya Rangkasbitung ini bisa melayani stamformaat 12,” katanya.
Pekerjaan fisik penguatan kelistrikan tersebut ditargetkan mulai dilaksanakan pada 2027 setelah KAI merampungkan skema pendanaan dan persiapan administrasi teknis.
Urgensi penambahan kapasitas memang cukup besar. Data resmi KAI menunjukkan jumlah pengguna Rangkasbitung Line naik dari sekitar 43,3 juta orang pada 2022 menjadi 77,5 juta orang pada 2025.
Bahkan pada periode Januari–Mei 2026 saja jumlah penumpangnya telah mencapai sekitar 33,3 juta orang. Pada jam sibuk, tingkat okupansi lintas ini bahkan dilaporkan mencapai sekitar 161 persen, lebih tinggi dibandingkan Bogor Line dan Bekasi/Cikarang Line.
Untuk memungkinkan rangkaian 12 kereta beroperasi, KAI merencanakan pembangunan 11 gardu traksi tambahan di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.
Saat ini kapasitas kelistrikan di lintas tersebut berada di level sekitar 3.000 volt, sedangkan koridor Bogor dan Bekasi/Cikarang telah didukung kapasitas sekitar 4.000 volt. Penguatan listrik inilah yang akan menjadi fondasi agar kereta yang lebih panjang dapat masuk ke Green Line.
Bukan cuma panjang rangkaian yang akan ditambah. KAI dan Kemenhub juga menyiapkan modernisasi sistem persinyalan untuk meningkatkan frekuensi perjalanan dan memangkas waktu tunggu antar-KRL.
Dengan rangkaian lebih panjang dan headway yang lebih pendek, kapasitas angkut penumpang setiap jam diharapkan meningkat sehingga kondisi berdesakan pada jam berangkat dan pulang kerja bisa dikurangi.
Bagi pengguna Green Line, langkah ini bisa menjadi peningkatan layanan yang cukup signifikan. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa armada baru dan SF12 tidak otomatis langsung beroperasi seluruhnya sekaligus.
KAI masih harus menyelesaikan penguatan listrik, persinyalan, pengadaan sarana, hingga pengujian keselamatan.
Jika seluruh tahap berjalan sesuai rencana, lintas Tanah Abang-Rangkasbitung bakal punya kapasitas jauh lebih besar-dan perjalanan yang selama ini identik dengan padatnya penumpang diharapkan bisa terasa lebih lega.
Sumber: PT KAI, ANTARA
( fan / fan )
Komentar (0)