Empat BUMN Masih Merugi: Waskita, WIKA, ADHI, dan Indofarma

Oleh f.andrian
Empat BUMN Masih Merugi: Waskita, WIKA, ADHI, dan Indofarma
  • Empat BUMN masih merugi, di antaranya: Waskita Karya, Wijaya Karya, Adhi Karya dan Indofarma
  • Empat perusahaan tersebut menunjukkan bahwa kerugian BUMN memiliki penyebab yang berbeda-beda.

Sejumlah perusahaan negara masih menghadapi tekanan keuangan sepanjang 2025.

Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, empat nama yang mencatat kerugian dan memiliki persoalan kinerja berkelanjutan adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Indofarma Tbk.

Kondisi masing-masing perusahaan berbeda, mulai dari tekanan utang dan beban bunga hingga persoalan proyek serta tata kelola.

Waskita Karya menjadi salah satu BUMN dengan tekanan finansial paling panjang. Pada 2025, perusahaan mencatat rugi bersih Rp3,93 triliun, atau memburuk dibandingkan tahun sebelumnya.

Setelah dilakukan penyajian kembali laporan keuangan (restatement), Waskita belum kembali membukukan laba sejak 2019. Pada akhir 2025, liabilitas perusahaan juga masih berada di kisaran Rp67,1 triliun, menunjukkan besarnya tantangan restrukturisasi yang harus dihadapi.

Berikutnya ada Wijaya Karya (WIKA) yang membukukan rugi bersih Rp9,71 triliun pada 2025. Angka ini meningkat tajam dibandingkan rugi sekitar Rp2,27 triliun pada 2024.

Kinerja WIKA turut tertekan oleh beban keuangan serta kerugian dari entitas asosiasi dan ventura bersama. Salah satu keterkaitan penting perusahaan adalah kepemilikannya dalam ekosistem Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia.

Adhi Karya (ADHI) juga masuk dalam daftar perusahaan yang masih mencatat rugi. Pada 2025, ADHI membukukan rugi bersih Rp5,4 triliun, meningkat sangat tajam dibandingkan rugi sekitar Rp86,75 miliar pada 2024.

Namun, ada konteks penting: dibandingkan Waskita dan WIKA, periode kerugian ADHI relatif lebih pendek karena perusahaan baru mencatat kerugian dalam dua laporan tahunan terakhir.

Tekanan terhadap keuangan perusahaan antara lain berkaitan dengan kebutuhan modal kerja dan siklus pembayaran proyek yang panjang.

Salah satu proyek besar yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah LRT Jabodebek. ADHI berperan sebagai kontraktor utama dalam pembangunan proyek tersebut sehingga membutuhkan pendanaan selama proses pengerjaan.

Mekanisme pembayaran berdasarkan termin juga membuat arus kas proyek menjadi faktor penting. Selain LRT, keterlibatan dalam berbagai proyek jalan tol turut membuat sebagian dana perusahaan tertanam dalam aset yang membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan pengembalian.

Sementara itu, Indofarma (INAF) mencatat rugi bersih Rp77,9 miliar pada 2025. Nilainya memang jauh lebih kecil dibandingkan tiga BUMN konstruksi sebelumnya, tetapi persoalannya berlangsung lebih lama. Indofarma masih mencatat kerugian sejak 2021, sehingga perusahaan menghadapi tantangan pemulihan yang lebih panjang.

Kondisi tersebut menjadi kontras dengan periode pandemi ketika sektor farmasi dan produk kesehatan mendapatkan dorongan permintaan yang sangat besar.

Persoalan Indofarma tidak hanya berkaitan dengan kinerja bisnis. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelumnya menemukan permasalahan dalam pengelolaan Indofarma dan anak usahanya, PT Indofarma Global Medika, termasuk indikasi fraud dengan potensi kerugian negara sekitar Rp471,8 miliar.

Kasus tersebut menambah kompleksitas proses penyehatan perusahaan karena pemulihan tidak hanya membutuhkan perbaikan kinerja keuangan, tetapi juga penguatan tata kelola dan pengawasan.

Empat perusahaan tersebut menunjukkan bahwa kerugian BUMN memiliki penyebab yang berbeda-beda. Waskita dan WIKA menghadapi tekanan utang, beban keuangan, serta persoalan proyek dan investasi.

ADHI berhadapan dengan tekanan arus kas dan kebutuhan pendanaan proyek; sedangkan Indofarma menghadapi kombinasi persoalan bisnis dan tata kelola.

Karena itu, angka kerugian 2025 sebaiknya tidak dibaca sekadar sebagai daftar perusahaan “gagal”, melainkan sebagai gambaran BUMN yang masih membutuhkan proses penyehatan dan perbaikan fundamental.

Sumber: Bloomberg Technoz

( fan / fan )

Komentar (0)