Bara Karhutla Kalimantan: Tolong Nyawa Warga Terancam Asap!
- Kebakaran hutan dan lahan memicu asap pekat di Kalimantan, merusak kualitas udara, melumpuhkan penerbangan, serta mengancam kesehatan masyarakat.
- Para relawan dan petugas pemadam bertaruh nyawa di lapangan meski terkendala ketersediaan air serta peralatan pemadaman yang sangat terbatas.
- Desakan menguat agar penanganan bencana karhutla segera dijadikan prioritas nasional seiring meluasnya dampak hingga ke negara tetangga.
Langit Kalimantan yang biasanya membiru kini berubah menjadi kelabu tebal yang mencekik. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganas di berbagai provinsi di Pulau Borneo telah memicu krisis kemanusiaan dan lingkungan yang parah. Ribuan titik panas (hotspot) yang terus bermunculan di tengah kepungan dampak gelombang iklim memicu kepulan asap pekat yang menyelimuti permukiman, melumpuhkan lalu lintas, mengganggu aktivitas penerbangan, hingga mengancam kesehatan ratusan ribu warga.
Kondisi terparah salah satunya melanda Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Jarak pandang yang merosot drastis akibat kabut asap tebal menyelimuti jalan-jalan utama kota sejak pagi hingga malam hari. Jalur transportasi darat lumpuh merayap, sementara jadwal penerbangan di Bandara Tjilik Riwut ikut terdampak signifikan.
"Asapnya sangat pekat dan baunya menyengat hidung. Anak-anak mulai batuk-batuk, mata pedih kalau keluar rumah. Kami seperti terperangkap di dalam rumah sendiri," kata Rahmad (42), salah seorang warga Palangka Raya yang terpaksa mengurangi aktivitas luar ruang demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman penyakit saluran pernapasan.
Kondisi tidak kalah memprihatinkan terjadi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kepulan asap yang begitu tebal akibat kebakaran lahan gambut memicu kemacetan panjang di jalan raya akibat jarak pandang kendaraan yang sangat terbatas. Tak sedikit pengendara sepeda motor yang terpaksa berhenti di pinggir jalan karena mata yang perih dan dada yang sesak.
Guna mengetuk pintu langit dan memohon hujan di tengah krisis kekeringan ini, jajaran kepolisian dan masyarakat di Kalimantan Selatan sampai menggelar Salat Istisqa bersama. Langkah spiritual ini diambil di tengah perjuangan fisik yang menguras energi tanpa henti di lapangan.
Di garis depan pertempuran melawan kobaran api, para relawan pemadam kebakaran harus bertaruh nyawa. Dengan peralatan seadanya, mereka berjibaku menembus lautan asap dan vegetasi yang membara selama berjam-jam. Banyak di antara petugas dan relawan yang akhirnya tumbang dan harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit setempat akibat mengalami dehidrasi berat, kelelahan ekstrem, serta paparan asap beracun dalam jangka panjang.
Perjuangan tim pemadam di lapangan menghadapi tembok kendala yang teramat berat. Luasnya lahan gambut yang terbakar sulit dijangkau oleh armada darat, sementara ketersediaan air di sekitar lokasi kejadian kian menipis seiring musim kemarau yang melanda.
"Kendala utama kami di lapangan adalah sumber air yang sangat jauh dari titik api, ditambah jumlah selang pemadam yang terbatas. Api di lahan gambut sering kali terlihat padam di permukaan, tetapi di bawah tanah masih membara dan kembali membesar saat tertiup angin kencang," ungkap salah satu petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah saat memadamkan api di kawasan pinggiran kota.
Ancaman karhutla bahkan makin menggentingkan ketika kobaran api di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, bergerak liar hingga hampir menjilat bangunan vital Gardu Induk dan jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Jika fasilitas energi tersebut ikut terbakar, krisis listrik skala besar dipastikan bakal melumpuhkan wilayah tersebut.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya lonjakan jumlah titik panas di wilayah Kalimantan. Berdasarkan pemantauan citra satelit, tercatat ribuan hotspot tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Lonjakan fenomena iklim ekstrem seperti El Nino disinyalir menjadi pemicu utama yang membuat vegetasi menjadi sangat kering dan sangat mudah terbakar.
Akibat sebaran asap yang makin meluas, Kota Pontianak di Kalimantan Barat, Palangkaraya Kalimantan Tengah dan daerah terdampak kebakaran hutan bahkan sempat mencatatkan indeks kualitas udara (ISPU) dan Indeks kualitas udara (AQI⁺) pada kategori berbahaya, tidak sehat dan menjadi yang terburuk di Indonesia.
Dampak ekologis ini tak lagi menjadi isu lokal semata. Asap karhutla Indonesia kini mulai menyeberang perbatasan hingga menyebabkan peningkatan titik panas dan penurunan kualitas udara di wilayah Sarawak, Malaysia.
Pemerintah negara tetangga tersebut bahkan mulai meliburkan sekolah-sekolah di wilayah terdampak dan menyatakan kesiapannya untuk melakukan kerja sama lintas batas guna mengatasi bencana asap tersebut.
Melihat kondisi yang makin tak terkendali, desakan agar pemerintah pusat segera turun tangan secara total makin menguat. Anggota Komisi IV DPR RI mendesak pemerintah agar penanganan bencana karhutla di Kalimantan segera ditetapkan dan ditangani sebagai prioritas nasional, dengan mengerahkan bantuan helikopter water bombing, penambahan personil TNI-Polri, serta penyaluran alat pemadam modern ke titik-titik krisis sebelum dampaknya makin melumpuhkan kehidupan warga.
( ahm / ahm )
Komentar (0)