Duka NTT: 40 Ribu Pengungsi, 11.925 Rumah Rusak Diikuti 2.768 Gempa Susulan

Oleh Sir Arafat
Duka NTT: 40 Ribu Pengungsi, 11.925 Rumah Rusak Diikuti 2.768 Gempa Susulan
  • Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, memicu gelombang pengungsian hingga 40 ribu jiwa.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu gelombang pengungsian hingga 40.040 jiwa. BNPB mencatat Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, sementara kerusakan rumah mencapai hampir 12.000 unit.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah pengungsi tersebut merupakan data sementara yang masih terus diperbarui. Dia mengingatkan angka pengungsian tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah rumah yang rusak karena sebagian warga mengungsi akibat dampak psikologis setelah gempa.

"Data sementara pengungsi yang sementara ini kami kumpulkan, ada 40.040 jiwa, ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati menerjemahkannya, namun ini karena dampak psikologis yang dirasakan warga," kata Berton.

Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni sekitar 15.465 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 966 orang berada di posko BPBD, sedangkan sekitar 14.000 warga lainnya mengungsi secara mandiri.

Di Manggarai Timur, BNPB mencatat 25 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut. Selain itu, sebanyak 442 orang mengalami luka berat dan 513 orang mengalami luka ringan. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak kedua, yakni mencapai 6.487 jiwa. Di daerah itu, tercatat 27 orang meninggal dunia, 31 orang mengalami luka berat, dan 88 orang mengalami luka ringan.

Selain korban jiwa dan pengungsian, gempa juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga di sejumlah wilayah NTT. BNPB mencatat total 11.925 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang beragam.

"Total rumah yang rusak sebanyak 11.925 unit, dengan rincian rusak berat sebanyak 5.516 unit, rusak sedang sebanyak 1.916 unit, rusak ringan 4.493 unit," ujarnya.

Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada menjadi daerah dengan tingkat kerusakan rumah yang paling tinggi. Kondisi tersebut menambah kebutuhan penanganan darurat, terutama bagi warga yang memilih meninggalkan rumah setelah gempa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 2.768 gempa bumi susulan terjadi setelah gempa utama berkekuatan M 7,7 mengguncang Flores. Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan M 6,2, sedangkan yang terkecil mencapai M 1,1.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyasmata mengatakan data tersebut dihitung hingga Rabu (19/8/2026) pukul 06.00 WITA. Dia menyebut aktivitas gempa susulan masih menjadi perhatian dalam penanganan bencana di wilayah terdampak.

"Total gempa bumi susulan hingga tanggal 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA, sebanyak 2.768 kejadian. Magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1," kata Arief.

Sementara itu, Basarnas memperbarui data korban gempa NTT dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 70 orang. Lembaga tersebut juga mencatat 132 orang mengalami luka-luka hingga penanganan hari ketiga bencana.

"Sampai dengan hari ketiga kemarin, pukul 23.30 WIB, telah kami kompulir, total korban adalah 202 orang, meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang," kata Direktur Operasi Basarnas Laksma TNI Yudhi Bramantyo.

Dari 132 korban luka, sebanyak 40 orang mengalami luka berat dan 92 orang mengalami luka ringan. Petugas Basarnas masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi terdampak untuk mencari korban sekaligus memastikan kondisi warga yang masih membutuhkan pertolongan.

( sir / sir )

Komentar (0)