Agustus Makin Kering, BMKG Wanti-Wanti Kekeringan Ekstrem
- BMKG memperingatkan bahwa kondisi kering semakin mendominasi berbagai wilayah Indonesia.
- Dalam pemantauan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian II Agustus 2026, BMKG menetapkan sejumlah daerah dalam kategori Waspada, Siaga, hingga Awas.
Di bulan Agustus 2026, BMKG memperingatkan bahwa kondisi kering semakin mendominasi berbagai wilayah Indonesia.
Dalam pemantauan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian II Agustus 2026, BMKG menetapkan sejumlah daerah dalam kategori Waspada, Siaga, hingga Awas.
Peringatan ini menjadi penting karena kekeringan meteorologis berkaitan dengan kondisi curah hujan yang rendah dalam periode tertentu dan dapat berdampak pada ketersediaan air serta sektor pertanian.
Secara nasional, kondisi kering memang cukup signifikan. BMKG mencatat pada Dasarian I Agustus 2026, 90,79% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sementara 87,28% wilayah berada pada kondisi sifat hujan di bawah normal.
Pada periode yang sama, 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia memang sedang menghadapi periode yang relatif minim hujan.
Salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian adalah Jawa Barat.
Pada Dasarian II Agustus, BMKG menetapkan Kota Depok dalam kategori Waspada; sejumlah wilayah seperti Kabupaten Bogor, Ciamis, Kota Bandung, Kota Banjar, Kota Sukabumi, Kuningan, Majalengka, Purwakarta, dan Tasikmalaya berada pada kategori Siaga.
Sementara itu, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Bekasi, Cianjur, Cirebon, Garut, Indramayu, Karawang, Kota Bekasi, Subang, Sukabumi, dan Sumedang masuk kategori Awas.
Risiko juga terlihat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, antara lain terdapat wilayah yang masuk kategori Waspada seperti Batang, Boyolali, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, dan Pemalang. Sedangkan sejumlah daerah lain masuk kategori Siaga maupun Awas.
Di Jawa Timur, Banyuwangi, Jombang, Surabaya, dan Sidoarjo berada dalam kategori Waspada, sementara sejumlah kabupaten/kota lainnya masuk kategori Siaga dan Awas, termasuk Blitar, Bojonegoro, Jember, Kediri, Malang, Lumajang, Madiun, Magetan, Ngawi, Pacitan, dan Ponorogo.
Wilayah lain juga menghadapi risiko kekeringan. Di Bali, Kabupaten Buleleng masuk kategori Awas, sedangkan Bangli dan Jembrana berada pada kategori Siaga.
Di Banten, Kota Cilegon, Kota Serang, Kota Tangerang, dan Kabupaten Serang masuk kategori Siaga.
Sementara itu, sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan daerah lainnya juga tercatat dalam peta peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika atmosfer. BMKG menyebut El Niño berada pada intensitas sangat kuat, sementara Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga berkontribusi mengurangi suplai uap air ke Indonesia sehingga atmosfer cenderung lebih kering.
Untuk periode Dasarian II Agustus hingga Dasarian I September 2026, BMKG memperkirakan curah hujan secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan curah hujan di bawah 50 mm per dasarian masih berpeluang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Namun, peringatan kekeringan bukan berarti seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan tanpa hujan sama sekali.
BMKG tetap mencatat peluang hujan lokal akibat dinamika atmosfer seperti MJO, Gelombang Kelvin, konvergensi angin, kelembapan, dan faktor lokal lainnya.
Bahkan pada 14–16 Agustus, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih tercatat di sejumlah wilayah. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa kondisi kemarau dan kekeringan dapat terjadi bersamaan dengan hujan lokal di wilayah tertentu.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.
Dengan kondisi kering yang masih berlanjut, informasi resmi BMKG melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan kanal @infobmkg penting dipantau agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Sumber: BMKG
( fan / fan )
Komentar (0)