Abu Vulkanik Terhirup, Apa yang Terjadi pada Tubuh?

Oleh f.andrian
Abu Vulkanik Terhirup, Apa yang Terjadi pada Tubuh?
  • Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut erupsi gunung berapi dapat memicu penyakit pernapasan akut maupun kronis akibat paparan abu, gas, dan asap vulkanik
  • Butirannya bersifat abrasif sehingga dapat menimbulkan mata merah, perih, berair, hingga goresan pada kornea jika partikel masuk dan mata kemudian digosok. Kontak dengan kulit juga dapat menimbulkan iritasi pada sebagian orang

Abu vulkanik jangan dianggap seperti debu biasa. Partikelnya terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik berukuran sangat kecil yang dapat beterbangan mengikuti angin.

Ketika terhirup, partikel ini bisa masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut erupsi gunung berapi dapat memicu penyakit pernapasan akut maupun kronis akibat paparan abu, gas, dan asap vulkanik.

Efek yang paling cepat dirasakan biasanya terjadi pada hidung dan tenggorokan. Paparan abu dapat menyebabkan hidung terasa perih atau berair, tenggorokan sakit, batuk kering, hingga rasa tidak nyaman saat bernapas.

US Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa ketika konsentrasi abu cukup tinggi, bahkan orang sehat dapat mengalami peningkatan batuk dan rasa tidak nyaman pada dada akibat iritasi saluran napas.

Yang perlu diwaspadai adalah ukuran partikelnya. Partikel yang relatif besar umumnya tertahan di hidung dan saluran napas atas, tetapi partikel di bawah sekitar 10 mikrometer dapat mencapai bronkus.

Partikel yang sangat halus, di bawah sekitar 4 mikrometer, bahkan berpotensi menembus lebih dalam hingga bagian alveolar paru. Karena itulah abu yang tampak tipis di udara belum tentu aman untuk dihirup.

Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan adanya kandungan mineral tertentu yang perlu diperhatikan.

“Unsur-unsur logam yang perlu diwaspadai adalah silica, secara fisik berupa butiran kecil dan agak tajam.” kata Mantan Dirjen P2PL Kemenkes Prof. Tjandra Yoga Aditama.

Partikel tersebut dapat memicu batuk dan iritasi pada saluran pernapasan ketika terhirup.

USGS menjelaskan bahwa paparan berkepanjangan terhadap abu respirabel yang mengandung silika kristalin perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan paru kronis, meski risikonya sangat bergantung pada kadar, ukuran partikel, serta lamanya paparan.

Dampaknya bisa lebih berat pada penderita asma, bronkitis, penyakit paru kronis, ataupun penyakit jantung.

Abu dapat memperburuk keluhan yang sudah ada dan menimbulkan mengi, batuk berat, produksi dahak, hingga sesak napas.

CDC memasukkan penderita asma, bayi dan anak-anak, serta orang dengan gangguan pernapasan atau kardiovaskular kronis sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami dampak kesehatan akibat abu dan polusi udara vulkanik.

Bukan hanya paru-paru, abu vulkanik juga bisa mengganggu mata dan kulit. Butirannya bersifat abrasif sehingga dapat menimbulkan mata merah, perih, berair, hingga goresan pada kornea jika partikel masuk dan mata kemudian digosok. Kontak dengan kulit juga dapat menimbulkan iritasi pada sebagian orang.

“Secara umum, dampak letusan gunung berapi adalah debu vulkanik dan gas yang bisa mengakibatkan iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan.” ucap Prof. Tjandra.

Cara paling efektif mengurangi risiko adalah menghindari paparan sejak awal. Saat hujan abu berlangsung, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela, serta mencegah abu masuk sebanyak mungkin ke ruang tinggal.

“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah,” ungkap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Jika benar-benar harus keluar rumah, perlindungan pernapasan menjadi penting. CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH saat berada di luar atau membersihkan abu karena dirancang untuk mengurangi partikel yang terhirup.

Kacamata pelindung juga dianjurkan untuk mencegah abu masuk ke mata, sedangkan pakaian berlengan panjang dan celana panjang dapat membantu mengurangi paparan pada kulit.

Menkes juga mengingatkan bahwa jika harus keluar, masyarakat perlu menggunakan masker dan kacamata.

Membersihkan abu pun tidak boleh sembarangan. Hindari membuat timbunan abu kembali beterbangan karena penyapuan atau aktivitas kendaraan dapat menyebabkan partikel kembali masuk ke udara.

Lindungi saluran pernapasan ketika melakukan pembersihan, tutup sumber air atau penampungan air agar tidak tercemar, dan cuci bersih buah, sayur, maupun makanan yang terkena abu sebelum dikonsumsi. Anak-anak sebaiknya tidak bermain di area yang masih tertutup abu.

Terakhir, jangan menunggu kondisi menjadi berat. Jika setelah terpapar abu muncul sesak napas, batuk berat atau terus-menerus, nyeri atau rasa tertekan di dada, maupun iritasi mata dan kulit yang memburuk, segera menjauh dari area paparan dan mencari pertolongan medis.

Orang dengan asma atau penyakit kronis juga perlu memastikan obat rutin tetap tersedia. Pada dasarnya, bahaya abu vulkanik sangat dipengaruhi konsentrasi, ukuran partikel, kandungannya, serta lamanya seseorang terpapar, sehingga mengurangi paparan sedini mungkin merupakan perlindungan yang paling penting.

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, WHO, USGS

( fan / fan )

Komentar (0)