Gunung Anak Krakatau hingga Merapi Erupsi, Mbah Rono: Kebetulan Saja
- Mbah Rono menilai erupsi sejumlah gunung api
- di Indonesia yang terjadi hampir bersamaan bukan
- berasal dari satu sistem magma yang sama
Pakar vulkanologi Surono atau yang akrab disapa Mbah Rono menilai erupsi sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi hampir bersamaan bukan berasal dari satu sistem magma yang sama. Menurut dia, setiap gunung memiliki sumber magma dan tekanan yang berbeda sehingga aktivitas erupsi berlangsung secara mandiri.
Sejumlah gunung api yang tengah mengalami aktivitas erupsi antara lain Gunung Anak Krakatau, Sinabung, Merapi, Ibu, serta Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mbah Rono mengatakan aktivitas beberapa gunung yang berlangsung dalam waktu berdekatan merupakan fenomena yang dapat terjadi mengingat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif.
"Sebetulnya kan itu hal yang biasa saja karena gunung kita terlalu banyak kebetulan aja bersamaan. Tapi pada dasarnya mereka punya sumber magma yang berbeda-beda dan sumber tekanan yang berbeda-beda," ujar Mbah Rono.
Mbah Rono menjelaskan Gunung Anak Krakatau saat ini berada dalam fase pertumbuhan alami setelah tubuh gunung tersebut mengalami longsor besar pada 2018. Pasokan magma yang terus berlangsung menyebabkan tekanan terakumulasi sehingga erupsi menjadi salah satu mekanisme alami untuk melepaskan tekanan sekaligus mengeluarkan material baru.
"Harus secara alami dia harus melakukan ini si Anak Krakatau ini karena dia itu secara alami akan membentuk tubuhnya. Magma kan supply terus menerus, mesti terjadi akumulasi tekanan dia harus lepas. Harus lepas, mengeluarkan material baru, jatuh di sekitar tubuhnya maka si Anak Krakatau itu semakin besar dan semakin tinggi," jelasnya.
Menurut dia, material hasil erupsi akan menumpuk di sekitar tubuh gunung dan secara bertahap membentuk kembali struktur Anak Krakatau. Proses tersebut merupakan bagian dari dinamika vulkanik gunung api yang terus mendapatkan pasokan magma dari dalam bumi.
Erupsi Anak Krakatau sebelumnya berdampak terhadap operasional Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Radin Inten II Lampung. Gangguan tersebut terjadi karena abu vulkanik berukuran halus terbawa angin hingga mencapai wilayah jalur penerbangan.
Mbah Rono menilai tingkat risiko menjadi lebih tinggi karena terdapat objek vital strategis nasional yang berada dalam jangkauan paparan abu vulkanik Anak Krakatau. Kondisi itu membuat dampak erupsi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas gunung api, tetapi juga berpotensi mengganggu fasilitas dan aktivitas penting di sekitarnya.
"Letusan ini andaikan di sekitarnya tidak ada objek vital strategis sebetulnya tidak menjadi geger seperti ini. Dampak langsung kepada manusia, hanya ini kan risikonya menjadi tinggi karena ada objek vital strategis yang tidak jauh dari jangkauan Anak Krakatau gitu aja," tambahnya.
Mbah Rono menilai kepanikan masyarakat ketika terjadi erupsi dapat dipicu minimnya sosialisasi mengenai langkah yang harus dilakukan saat status gunung api meningkat. Informasi mengenai prosedur menghadapi kondisi darurat dinilai perlu disampaikan secara konsisten sebelum bencana terjadi.
Dia meminta koordinasi pemerintah daerah dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus diperkuat untuk memastikan informasi kebencanaan dapat diterima masyarakat secara cepat dan jelas. Warga di wilayah rawan juga perlu mengetahui tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi perubahan aktivitas gunung api.
"Kepanikan itu ada karena kejadiannya kan tidak setiap hari. Tidak mendengar informasi harus berbuat apa jika terjadi kesulitan seperti itulah gitu ya," tandasnya.
( sir / sir )
Komentar (0)