Euforia Redup, Saham RANS Turun 16% Sebulan

Euforia Redup, Saham RANS Turun 16% Sebulan
  • Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina terus bergerak menjauh dari euforia awal IPO.
  • Pada perdagangan 21 Agustus 2026, harga RANS berada di kisaran Rp200 per saham. Jika dibandingkan dengan penutupan 20 Juli di Rp238, saham tersebut telah terkoreksi sekitar 16% dalam sebulan, mendekati angka 15,8%.

Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina terus bergerak menjauh dari euforia awal IPO.

Pada perdagangan 21 Agustus 2026, harga RANS berada di kisaran Rp200 per saham. Jika dibandingkan dengan penutupan 20 Juli di Rp238, saham tersebut telah terkoreksi sekitar 16% dalam sebulan, mendekati angka 15,8%.

Bloomberg Technoz sebelumnya juga mencatat RANS telah turun 19,2% dalam 30 hari perdagangan per 19 Agustus, sementara pada 20 Agustus harganya berada di Rp199 atau sudah 27% di bawah puncak penutupan Rp272.

Tekanan tersebut datang setelah perjalanan RANS di bursa dimulai dengan sangat agresif. RANS resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026 dengan harga IPO Rp170 per saham, menawarkan 2,525 miliar saham atau 20,02% dari modal setelah IPO.

Pada hari pertama perdagangan, sahamnya langsung melonjak 34,12% menjadi Rp228, kemudian reli berlanjut hingga ditutup Rp272 pada 15 Juli.

Lonjakan besar dalam waktu sangat singkat membuat ruang untuk profit taking atau aksi ambil untung juga semakin terbuka ketika antusiasme IPO mulai mereda.

Tekanan jual memang terlihat cukup besar setelah reli tersebut. Bloomberg Technoz mencatat transaksi melalui Trimegah Sekuritas, yang menjadi penjamin emisi RANS saat IPO, membukukan net sell sekitar Rp258,47 miliar sejak pencatatan hingga 19 Agustus, dengan rata-rata harga jual Rp228.

Arus jual juga tercatat melalui CGS International Sekuritas sekitar Rp30,73 miliar dan beberapa broker lainnya.

Namun, data broker tidak otomatis berarti sekuritas tersebut menjual untuk rekening sendiri karena transaksi dapat berasal dari berbagai nasabah. Yang jelas, besarnya net sell menunjukkan supply saham di pasar cukup kuat dan bertepatan dengan tren harga yang melemah.

Selain faktor teknikal, investor juga punya alasan untuk kembali mencermati fundamental RANS setelah euforia IPO mereda.

Prospektus resmi mencatat pendapatan perseroan pada 2025 turun 13,91% dibandingkan tahun sebelumnya.

Laba tahun berjalan bahkan turun 41,60%, dari sekitar Rp97,07 miliar pada 2024 menjadi Rp56,69 miliar pada 2025.

Rasio laba terhadap pendapatan juga turun dari 23,65% menjadi 16,04%. Pelemahan pendapatan dan laba seperti ini membuat pasar semakin membutuhkan bukti bahwa dana IPO mampu menghasilkan pertumbuhan baru.

Penurunan kinerja tersebut berasal dari beberapa lini bisnis. Dalam prospektus, RANS menjelaskan berkurangnya aktivitas pada segmen brand ambassador dan talent management, menurunnya penjualan produk makanan, minuman serta kecantikan berbasis intellectual property (IP), dan berkurangnya sejumlah aktivitas bisnis ikut menekan pendapatan.

Di sisi lain, perseroan berhasil meningkatkan margin laba bruto dari 38,79% menjadi 43,21% lewat efisiensi biaya.

Artinya, fundamental RANS tidak sepenuhnya negatif, tetapi pasar masih menunggu apakah perbaikan efisiensi bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba yang kembali kuat.

Ada pula risiko struktural yang sejak awal sudah diakui perusahaan. Dalam prospektus IPO, RANS menyebut ketergantungan terhadap Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan keluarga sebagai talent utama sebagai risiko paling utama perseroan.

Kekuatan brand dan daya tarik konten RANS masih sangat terkait dengan figur tersebut, sehingga penurunan keterlibatan ataupun masalah reputasi berpotensi memengaruhi bisnis dan kinerja keuangan.

Risiko ini bukan berarti menjadi penyebab langsung anjloknya saham dalam sebulan terakhir, tetapi penting karena dapat membuat valuasi saham lebih sensitif terhadap sentimen mengenai figur utama perusahaan.

Pasar juga sempat mendapat kabar perubahan manajemen tidak lama setelah IPO. Direktur RANS Grandy Prajayakti mengundurkan diri pada 22 Juli 2026, hanya sekitar dua minggu setelah perusahaan melantai.

Dalam jawaban resmi perseroan atas permintaan penjelasan Bursa, RANS menegaskan pengunduran diri tersebut dilakukan karena alasan pribadi, tidak ada perselisihan dengan perusahaan maupun pemegang saham, dan tidak berdampak material terhadap operasional, kondisi keuangan, tata kelola maupun penggunaan dana IPO.

Karena itu, tidak tepat menyebut pengunduran diri ini sebagai penyebab utama penurunan saham tanpa bukti tambahan.

Dengan demikian, koreksi RANS lebih masuk akal dibaca sebagai kombinasi normalisasi setelah lonjakan IPO, aksi ambil untung dan tekanan jual besar, serta pasar yang mulai kembali memperhitungkan fundamental perusahaan.

Secara teknikal, Bloomberg Technoz menilai tren jangka pendek RANS masih bearish pada 20 Agustus, dengan area Rp190 menjadi level penting setelah harga menembus Rp200.

Namun harga sekitar Rp200 masih berada di atas harga IPO Rp170. Perhatian investor berikutnya akan tertuju pada laporan keuangan semester I 2026 yang sedang menjalani limited review, realisasi penggunaan dana IPO, serta kemampuan perusahaan mengembalikan pertumbuhan laba.

Sumber: BEI

( fan / fan )

Komentar (0)