Dunia “Kecanduan” Mikrodrama, 2 Menit Bikin Susah Berhenti
- Mikrodrama sedang berubah dari tontonan niche menjadi salah satu format hiburan digital paling agresif pertumbuhannya di dunia
- Jika TikTok membiasakan orang menikmati video pendek, mikrodrama menawarkan sensasi serupa tetapi dengan cerita bersambung yang membuat penonton terus menekan tombol next
Mikrodrama sedang berubah dari tontonan niche menjadi salah satu format hiburan digital paling agresif pertumbuhannya di dunia.
Formatnya sederhana: serial vertikal untuk smartphone, dengan episode yang biasanya hanya berlangsung satu hingga beberapa menit, alur supercepat, konflik muncul sejak awal, dan hampir setiap episode ditutup dengan cliffhanger.
Istilah “kecanduan” di sini tentu bukan diagnosis medis, melainkan gambaran betapa kuatnya pola binge-watching yang sengaja dibangun.
Jika TikTok membiasakan orang menikmati video pendek, mikrodrama menawarkan sensasi serupa tetapi dengan cerita bersambung yang membuat penonton terus menekan tombol next.
Tiongkok menjadi episentrum ledakannya. Data resmi yang dikutip State Council Information Office menunjukkan pasar mikrodrama Tiongkok pada 2025 telah menembus 100 miliar yuan atau sekitar dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Hingga Juni 2025, jumlah penggunanya mencapai sekitar 696 juta orang, setara hampir 70 persen pengguna internet di negara tersebut.
Sebelumnya, Beijing Municipal Radio and Television Bureau mencatat nilai pasar mikrodrama Tiongkok pada 2024 sebesar 50,44 miliar yuan. Bahkan sudah melampaui total box office bioskop domestik pada tahun tersebut.
Yang membuat format ini semakin menarik adalah keberhasilannya menyeberang ke luar Tiongkok. Menurut white paper industri yang dikutip Xinhua, pendapatan luar negeri dari mikrodrama Tiongkok mencapai sekitar US$1,5 miliar hanya dalam delapan bulan pertama 2025, melonjak 194,9 persen secara tahunan.
Jumlah unduhan aplikasi mikrodrama Tiongkok di pasar global pada periode yang sama mencapai sekitar 730 juta, naik 370,4 persen.
Dari Asia Tenggara hingga Eropa dan Amerika Serikat, layar ponsel mulai dipenuhi drama berdurasi pendek yang awalnya lahir dari ekosistem hiburan mobile Tiongkok.
Amerika Serikat bahkan menjelma menjadi mesin uang terbesarnya di luar Tiongkok. Deloitte mencatat AS menjadi pasar dengan pendapatan terbesar untuk aplikasi seperti ReelShort, DramaBox, dan GoodShort.
Pada kuartal pertama 2025 saja, aplikasi mikrodrama meraup hampir US$700 juta secara global, naik drastis dari US$178 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, dan hampir separuh pendapatannya berasal dari AS.
Survei Deloitte pada Maret 2025 juga menemukan sekitar 30 persen Gen Z dan milenial Amerika sudah mengenal mikrodrama, dan hampir separuh dari kelompok tersebut mengaku menonton lebih banyak mikrodrama dibanding satu tahun sebelumnya.
Trennya sekarang juga bergeser dari sekadar menerjemahkan drama Tiongkok menjadi memproduksi cerita lokal untuk pasar lokal.
Di Amerika, aktor berbahasa Inggris, setting kota-kota Barat, hingga trope seperti miliarder, mafia, werewolf, perselingkuhan dan balas dendam sengaja dipaketkan sesuai selera penonton setempat. Bahkan pemain Hollywood mulai masuk.
Television Academy mencatat mantan eksekutif ABC, Showtime hingga NBCUniversal mulai membangun atau bergabung dengan studio mikrodrama, sementara Fox Entertainment ikut berinvestasi pada perusahaan yang bergerak di genre tersebut. Format yang dulu dianggap “sinetron HP” kini mulai dilirik industri televisi arus utama.
Gelombangnya tidak berhenti di AS. India, Indonesia, dan Brasil disebut Sensor Tower sebagai tiga pasar mobile besar tempat popularitas short drama terus meningkat.
Sensor Tower bahkan memprediksi pada 2026 jumlah unduhan aplikasi short drama secara global berpotensi melampaui aplikasi streaming OTT tradisional.
Asia Tenggara menjadi wilayah penting karena populasi pengguna smartphone besar dan konsumsi video vertikal yang tinggi, sedangkan Amerika Latin (termasuk Brasil) mulai tumbuh sebagai mesin download baru.
Artinya, mikrodrama bukan lagi fenomena Tiongkok yang diekspor, tetapi format global yang sedang mencari versi lokalnya di berbagai negara.
Kenapa begitu gampang bikin orang betah? Resepnya nyaris kebalikan dari serial prestige yang slow burn.
Mikrodrama tidak punya banyak waktu untuk membangun cerita: karakter harus jatuh cinta, dikhianati, dipermalukan atau menemukan rahasia besar hanya dalam hitungan menit.
Setiap episode kemudian berhenti tepat ketika konflik sedang panas. Format vertikal juga membuatnya nyaman ditonton sambil antre, naik transportasi umum atau istirahat singkat.
Deloitte menilai kombinasi antara durasi pendek, storytelling serial, viralitas media sosial dan kebiasaan scrolling menjadi alasan format ini terasa sangat natural bagi generasi yang hidup bersama smartphone.
Meski demikian, booming mikrodrama juga membawa masalah baru. Regulator Tiongkok mengakui pertumbuhan yang sangat cepat sempat diikuti produksi berkualitas rendah dan praktik pembayaran yang tidak tertib, sehingga pengawasan diperketat.
Tantangan berikutnya adalah apakah mikrodrama bisa berkembang dari sekadar formula konflik instan menjadi storytelling yang punya kualitas dan umur panjang.
Tetapi satu hal sudah terlihat jelas: cara dunia menonton serial sedang berubah. Dari Tiongkok, Amerika Serikat, Indonesia, India hingga Brasil, drama tidak lagi harus 45 menit untuk membuat orang penasaran.
Kadang dua menit saja sudah cukup untuk membuat penonton berkata, “satu episode lagi.”
Sumber: Xinhua, Deloitte Digital Media Trends, Sensor Tower
( fan / fan )
Komentar (0)