PDIP Tatap Masa Depan dan Tutup Buku Penuh ke Jokowi

Oleh Sir Arafat
TL;DR
  • PDI Perjuangan secara tegas menyatakan telah menutup buku sejarahnya dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Partai berlambang banteng moncong putih tersebut kini

PDI Perjuangan secara tegas menyatakan telah menutup buku sejarahnya dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Partai berlambang banteng moncong putih tersebut kini memilih acuh terhadap arah politik baru mantan kadernya itu.

Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, menegaskan status keanggotaan mantan Wali Kota Solo tersebut sudah berakhir. Menurut dia, pemecatan yang telah dilakukan membuat partai tidak lagi memiliki beban moral terhadap langkah politik yang bersangkutan.

"Bagi kami, urusan dengan Jokowi sudah selesai, sudah dipecat dari keanggotaan partai. Jadi dia mau pakai jaket partai apa pun, itu urusan Jokowi,” ujar Dedi.

Deddy menilai kedekatan figur tersebut dengan Partai Solidaritas Indonesia sebenarnya bukan lagi sebuah kejutan politik. Hubungan emosional dan afiliasi terselubung di antara kedua belah pihak diyakini sudah terajut sejak lama.

Dia menambahkan indikasi tersebut terlihat jelas dari posisi strategis sang anak yang kini menjabat sebagai nakhoda utama partai itu. Lebih jauh, upaya membesarkan partai baru tersebut dinilai sudah berjalan lewat penempatan sejumlah loyalis di lingkaran pemerintahan serta BUMN.

"Memangnya dari dulu dia tidak di PSI, kan anaknya sudah Ketua Umum dan sebelum itu dia membesarkan PSI dengan merekrut orang-orangnya di pemerintahan dan BUMN," katanya.

PDI Perjuangan mengaku terus mengamati pergerakan agresif partai berlambang mawar tersebut di berbagai wilayah. Manuver politik itu disebut-sebut gencar mendekati dan membujuk para kader banteng untuk berpindah haluan.

Deddy mengungkapkan bahwa operasi senyap tersebut menyasar elemen struktural partai yang cukup strategis. Komunikasi intensif disinyalir telah dilakukan kepada para legislator, kepala daerah, hingga pengurus inti di tingkat regional.

Dia juga mengendus adanya iming-iming intensifitas dukungan logistik yang masif dalam proses perekrutan tersebut. Kendati demikian, validitas atas kepastian aliran dana tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

"Menurut info yang saya dengar, bahkan rata-rata ditawari bantuan material yang lumayan,” terangnya.

PDI Perjuangan menegaskan sama sekali tidak gentar menghadapi poros baru antara figur ayah dan anak tersebut. Kegagalan partai semenjana itu menembus ambang batas parlemen pada pemilu lalu menjadi dasar legitimasi rasa percaya diri mereka.

Dia mengingatkan bahwa limpahan fasilitas kekuasaan dan instrumen negara pada kontestasi lalu terbukti belum mampu mengamankan kursi di Senayan. Oleh karena itu, penggalangan kekuatan baru ini dianggap bukan ancaman yang menakutkan bagi basis massa banteng.

"Pemilu kemarin, saat di puncak kekuasaan dengan jaringan pemerintahan dan aparat penegak hukum serta anggaran bantuan sosial APBN saja, mereka masih gagal masuk parlemen," jelasnya.

Deddy memetakan bahwa strategi ekspansi partai tersebut tidak hanya menyasar konstituen PDI Perjuangan semata. Sejumlah partai politik besar lainnya juga disebut ikut menjadi target perburuan kader secara instan.

Dia mengidentifikasi pergerakan serupa mulai memicu riak politik di kantong-kantong suara partai papan atas lainnya. Gejala pembajakan kader disinyalir tengah terjadi pada internal Partai NasDem, Partai Demokrat, hingga Partai Amanat Nasional.

Konsekuensinya, partai anak muda tersebut dinilai sedang memantik resistensi kolektif dari berbagai kekuatan politik sekaligus. Strategi potong kompas dalam membesarkan struktur partai diprediksi akan mendapat perlawanan dari para pemegang saham politik lama.

"Ingat, partai-partai lain pun akan berhadapan dengan mereka karena upaya untuk membajak kader partai-partai lain. Ini banyak sekali terlihat gejalanya, terutama di basis-basis Nasdem, Demokrat, dan PAN," katanya.

"Jadi mereka tidak saja berhadapan dengan PDIP, tetapi juga dengan partai-partai lain yang kadernya dipungut untuk membesarkan PSI secara instan," sambungnya.

Di sisi lain, sinyal bergabungnya sang mantan presiden ke kubu baru kini dikonfirmasi langsung oleh petinggi partai terkait. Atribut resmi kepemimpinan kabarnya akan segera disematkan dalam waktu dekat sebagai simbol pengukuhan.

Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, membenarkan rencana peresmian figur tersebut sebagai Ketua Dewan Pembina yang baru. Langkah ini disiapkan menjadi suntikan moral terbesar bagi seluruh kader di daerah.

Saat ini, internal partai berlambang mawar tersebut tengah memacu akselerasi penataan organisasi secara masif. Konsolidasi kepengurusan diproyeksikan harus rampung hingga menyentuh level akar rumput di tingkat desa.

Langkah taktis tersebut sengaja dikejar demi memenuhi prasyarat formal menghadapi agenda verifikasi partai politik tahun depan. Kesiapan struktur di lapangan menjadi kunci utama sebelum sang tokoh kunci turun langsung menyapa masyarakat.

"Tidak hanya di NTT, jadi ini serentak di wilayah lain juga berlangsung karena kita tahun depan kita sudah masuk verifikasi, dan segera merampungkan agar Bapak Dewan Pembina bisa segera secara formal memakai jaket PSI dan ikut menyapa masyarakat," kata Grace.