Niu Lai Dipuja, Merah Putih Dihujat Nasionalisme Salah Arah?

Oleh f.andrian
Niu Lai Dipuja, Merah Putih Dihujat Nasionalisme Salah Arah?
  • Dua film ini sama-sama mendapat sorotan karena kualitas visual yang dianggap jauh dari standar animasi layar lebar, tetapi nasib sosialnya berbanding terbalik
  • Inilah pelajaran sosial paling penting dari dua fenomena tersebut yaitu nasionalisme tidak bisa diminta hanya lewat simbol

Fenomena Niu Lai di Tiongkok dan Merah Putih: One For All di Indonesia menunjukkan satu hal menarik, masyarakat tidak selalu menilai karya hanya dari bagus atau buruknya animasi.

Dua film ini sama-sama mendapat sorotan karena kualitas visual yang dianggap jauh dari standar animasi layar lebar, tetapi nasib sosialnya berbanding terbalik.

Niu Lai berubah dari bahan olok-olok menjadi fenomena yang diburu penonton, sedangkan Merah Putih: One For All justru menjadi sasaran kritik dan hujatan.

Perbedaannya bukan karena masyarakat Tiongkok lebih nasionalis sementara orang Indonesia kurang menghargai karya bangsa sendiri, melainkan karena ekspektasi sosial yang dibebankan kepada kedua karya tersebut sejak awal memang berbeda.

Niu Lai lahir nyaris sebagai antitesis industri film besar. Film animasi yang dirilis di Tiongkok pada 5 Agustus 2026 itu dikerjakan oleh tim inti yang sangat kecil, yakni Xin Yumeng bersama ibunya, Sun Lifang, selama bertahun-tahun dengan sumber daya yang amat terbatas.

Pada sembilan hari pertama, pendapatannya hanya sekitar 7.169 yuan dan ditonton kurang dari 300 orang.

Kualitas animasinya bahkan dijuluki “disaster-level” oleh sebagian pengguna internet.

Anehnya, justru keterbatasan itulah yang kemudian menjadi bahan percakapan, meme dan video parodi di media sosial hingga membuat orang berbondong-bondong datang ke bioskop karena penasaran.

Pada 20 Agustus, Reuters melaporkan pendapatannya telah menembus lebih dari US$4 juta. Keberhasilan Niu Lai bukan semata-mata kemenangan sebuah film buruk, melainkan kemenangan sebuah fenomena sosial.

Anak muda Tiongkok tidak hanya membeli tiket untuk menyaksikan cerita seekor anak sapi, mereka membeli pengalaman kolektif, ikut dalam lelucon yang sama, membuat meme yang sama, dan merasa menjadi bagian dari peristiwa budaya internet.

Bahkan Reuters mencatat fenomenanya melahirkan cosplay, merchandise, berbagai parodi hingga permainan kata mengenai “bull market”.

Dalam situasi semacam ini, kekurangan teknis tidak lagi sepenuhnya dianggap sebagai kegagalan. Kekurangan itu berubah menjadi identitas.

Niu Lai terasa seperti karya “orang biasa” yang secara tidak sengaja melawan industri hiburan yang semakin mahal, mengilap, dan seragam.

Situasinya berbeda dengan Merah Putih: One For All. Film produksi Perfiki Kreasindo yang tayang menjelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI pada Agustus 2025 sejak awal membawa beban simbolik yang jauh lebih besar.

Ceritanya mengenai delapan anak dari latar budaya berbeda yang berusaha menyelamatkan bendera Merah Putih. Namun trailer-nya justru memicu kritik terhadap visual, gerakan karakter, latar, hingga kualitas produksinya.

Angka biaya produksi sekitar Rp6,7 miliar yang beredar juga semakin meningkatkan ekspektasi publik.

Perlu dicatat, pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif telah menegaskan tidak memberikan dukungan finansial maupun fasilitas produksi dan promosi kepada film tersebut. Jadi, anggapan bahwa film itu dibiayai pemerintah tidak tepat.

Faktor nasionalisme justru menjadi pedang bermata dua. Ketika sebuah karya memakai nama “Merah Putih”, mengusung keberagaman suku, membawa bendera Indonesia, dan dilepas menjelang Hari Kemerdekaan, publik tidak lagi melihatnya sebagai film animasi biasa.

Secara tidak langsung ia tampil sebagai representasi Indonesia. Akibatnya, tuntutan terhadap kualitas menjadi jauh lebih tinggi. Penonton seolah berkata, kalau simbol yang dibawa adalah kebanggaan nasional, maka pengerjaannya juga harus membuat bangsa ini bangga.

Dalam banyak kasus, justru rasa memiliki terhadap simbol nasional itulah yang membuat publik menjadi lebih kritis. Ada pula persoalan tentang kejujuran sosial sebuah karya. Niu Lai tidak datang dengan janji bahwa ia akan mewakili kemajuan perfilman Tiongkok.

Ia muncul tanpa bintang besar, promosi masif, atau citra sebagai karya prestisius. Publik mengetahui bahwa film tersebut merupakan proyek kecil yang dikerjakan dengan keterbatasan luar biasa. Karena itu muncul simpati terhadap perjuangan pembuatnya.

Sebaliknya, saat Merah Putih: One For All masuk bioskop membawa tema nasionalisme di tengah industri animasi Indonesia yang baru saja menunjukkan standar tinggi lewat karya-karya lain, termasuk kesuksesan Jumbo, masyarakat memiliki pembanding yang nyata.

Kritik kemudian tidak lagi sekadar berbunyi “animasi ini kurang bagus”, tetapi “mengapa karya yang membawa nama dan simbol Indonesia tidak dikerjakan sebaik kemampuan terbaik industri kita?”

Inilah pelajaran sosial paling penting dari dua fenomena tersebut yaitu nasionalisme tidak bisa diminta hanya lewat simbol.

Memasang bendera, menggunakan kata “Merah Putih”, atau mengangkat keberagaman tidak otomatis membuat masyarakat berkewajiban memberikan tepuk tangan.

Di era media sosial, publik ingin merasakan autentisitas. Niu Lai mendapat ruang karena orang melihat dua pembuat amatir berusaha menyelesaikan film selama bertahun-tahun dan kemudian menjadikan ketidaksempurnaannya sebagai hiburan bersama.

Sementara ketika nasionalisme hadir sebagai pesan utama sebuah karya, masyarakat justru akan menagih kesesuaian antara besarnya pesan dan kualitas eksekusinya.

Nasionalisme yang sehat bukan berarti memuji semua produk lokal tanpa kritik. Ia juga dapat berbentuk tuntutan agar karya lokal terus naik kelas.

Keliru jika kesuksesan Niu Lai dibaca sederhana sebagai “orang Tiongkok mendukung karya negaranya, sedangkan orang Indonesia gemar menghujat karya sendiri”.

Kenyataannya jauh lebih kompleks. Niu Lai berhasil mengubah ejekan menjadi partisipasi sosial karena publik merasa menemukan sesuatu yang autentik, absurd, dan lahir dari bawah.

Merah Putih: One For All sebaliknya membawa simbol nasional yang otomatis mengundang standar dan tanggung jawab lebih besar.

Pelajarannya bukan bahwa kita harus berhenti mengkritik karya Indonesia, melainkan bahwa kreator perlu memahami satu hal, publik Indonesia sebenarnya ingin bangga pada karya bangsanya, tetapi kebanggaan tidak cukup diminta atas nama Merah Putih.

Kebanggaan harus diperjuangkan lewat karya yang memang layak dibanggakan.

Sumber: Reuters, ANTARA

( fan / fan )

Komentar (0)