Google Pamer AI Cuaca yang Diklaim Akurat

Oleh f.andrian
Google Pamer AI Cuaca yang Diklaim Akurat
  • Google DeepMind dan Google Research resmi memperkenalkan WeatherNext 3, model kecerdasan buatan terbaru untuk memprediksi cuaca global
  • WeatherNext 3 dapat memetakan sejumlah variabel permukaan seperti temperatur dan kelembapan hingga resolusi sekitar 5 kilometer

Google DeepMind dan Google Research resmi memperkenalkan WeatherNext 3, model kecerdasan buatan terbaru untuk memprediksi cuaca global.

Diluncurkan pada 3 September 2026, teknologi ini diklaim mampu memberikan ramalan cuaca yang lebih cepat, lebih detail, dan lebih akurat dibandingkan generasi sebelumnya, termasuk dalam memprediksi hujan dan salju.

Google menyebut WeatherNext 3 sebagai model cuaca AI global tercanggih yang pernah mereka kembangkan. Bahkan, Google membawa klaim yang cukup berani.

“WeatherNext 3 adalah model cuaca global kami yang paling maju dan akurat hingga saat ini,” ucap tim WeatherNext 3.

Klaim tersebut menurut Google turut mengacu pada evaluasi langsung independen yang dilakukan melalui Operational WeatherBench milik Brightband, yang membandingkan performa sejumlah model prakiraan cuaca modern.

Salah satu lompatan terbesar WeatherNext 3 ada pada data yang digunakannya.

Berbeda dengan banyak AI cuaca sebelumnya yang sangat bergantung pada hasil numerical weather prediction atau simulasi atmosfer berbasis fisika, WeatherNext 3 dapat membaca data satelit geostasioner terbaru secara langsung.

Hasilnya, Google bisa menghasilkan prakiraan baru setiap satu jam, dibandingkan model sebelumnya yang umumnya diperbarui dalam interval enam jam.

Detail prakiraannya juga dibuat jauh lebih tajam. WeatherNext 3 dapat memetakan sejumlah variabel permukaan seperti temperatur dan kelembapan hingga resolusi sekitar 5 kilometer, sementara WeatherNext 2 sebelumnya bekerja pada grid sekitar 25 kilometer.

Untuk memperkuat kemampuan memprediksi hujan, model ini juga dilatih menggunakan data presipitasi berbasis satelit IMERG milik NASA serta data analisis presipitasi global yang dikembangkan Google dari pengamatan radar satelit. Dampaknya paling menarik terasa pada prakiraan hujan.

“Untuk perencanaan satu hari atau lebih ke depan, pengguna akan melihat prakiraan presipitasi hingga 50 persen lebih akurat,” ungkap Google.

Peningkatan terbesar disebut terjadi di wilayah yang selama ini memiliki kualitas prakiraan cuaca relatif lebih terbatas.

Artinya, kemampuan tersebut berpotensi relevan bagi kawasan Asia-Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin yang tidak semuanya memiliki infrastruktur pengamatan cuaca sepadat Amerika Utara atau Eropa.

Pengujian teknis Google juga menunjukkan peningkatan pada Continuous Ranked Probability Score atau CRPS, salah satu metrik untuk mengukur kualitas prakiraan probabilistik.

Untuk prakiraan presipitasi jangka menengah, WeatherNext 3 mencatat peningkatan skor hingga 60 persen terhadap IMERG, sekitar 30 persen terhadap MRMS, serta sekitar 10 persen terhadap pengukuran penakar hujan pada waktu prediksi awal.

Paper WeatherNext 3 juga menyebut model tersebut mampu menghasilkan ensemble 64 skenario prakiraan hingga 15 hari ke depan.

Meski demikian, angka “50 persen lebih akurat” perlu dibaca dengan konteks. Angka tersebut merupakan klaim Google khusus untuk peningkatan prakiraan presipitasi pada kondisi dan horizon tertentu, bukan berarti setiap ramalan temperatur, angin, badai, maupun hujan di seluruh lokasi akan selalu 50 persen lebih tepat.

Operational WeatherBench Brightband juga mencatat bahwa saat ini output presipitasi WeatherNext 3 belum dimasukkan dalam perbandingan presipitasi lintas-model mereka karena perbedaan resolusi dan data acuan yang digunakan.

Teknologi ini tak akan berhenti di laboratorium. Google mulai mengintegrasikan WeatherNext 3 ke Google Search, aplikasi Gemini, Google Maps, Google Maps Platform Weather API, Google Earth Engine, hingga layanan Google Cloud.

Teknologi AI tersebut pada akhirnya bisa memengaruhi informasi cuaca yang dilihat pengguna sehari-hari. Namun Google sendiri memberi peringatan bahwa untuk peringatan cuaca ekstrem dan informasi keselamatan resmi, masyarakat tetap harus merujuk badan meteorologi nasional.

Sumber: Google

( fan / fan )

Komentar (0)