Dapur MBG Bakal Dirating Sekolah, BGN Siapkan Sistem Nilai

Oleh f.andrian
Dapur MBG Bakal Dirating Sekolah, BGN Siapkan Sistem Nilai
  • Skema ini disiapkan agar BGN mendapat umpan balik langsung dari pihak yang setiap hari menerima layanan MBG.
  • Sekolah didorong melaporkan dugaan pelanggaran, pelayanan buruk, atau persoalan keamanan pangan langsung kepada BGN apabila teguran kepada dapur tidak menghasilkan perbaikan.

Badan Gizi Nasional (BGN) sedang menyiapkan sistem penilaian baru untuk memperketat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Nantinya, kepala sekolah dan guru dapat memberikan rating sekaligus catatan langsung terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang melayani sekolah mereka.

Skema ini disiapkan agar BGN mendapat umpan balik langsung dari pihak yang setiap hari menerima layanan MBG.

Kepala BGN Sudaryono menjelaskan sistem tersebut akan dibuat menyerupai mekanisme penilaian pada aplikasi layanan daring.

Sekolah nantinya tidak hanya dapat memberikan nilai berbentuk bintang, tetapi juga mencatat masalah yang mereka temukan, mulai dari kualitas menu hingga keterlambatan distribusi.

“Nantinya kami akan memberikan semacam aplikasi kepada Bapak-Ibu kepala sekolah, seperti di Ojek Online, seperti di GoFood, yang kemudian Bapak-Ibu guru itu bisa ngasih bintang, bisa ngasih catatan terhadap si dapur itu,” ujar Sudaryono.

Penilaian itu nantinya bisa mencakup sejumlah aspek pelayanan SPPG. BGN menyebut sekolah dapat melaporkan apakah menu yang diberikan kurang baik, pengiriman sering terlambat, hingga persoalan lain yang berkaitan dengan kualitas layanan.

Masukan dari sekolah kemudian dapat digunakan BGN sebagai bahan evaluasi terhadap dapur yang bersangkutan. Dengan begitu, pengawasan tidak hanya berasal dari internal BGN, tetapi juga dari pihak yang berhadapan langsung dengan layanan setiap hari.

Sudaryono kembali menegaskan rencana tersebut ketika meninjau pelaksanaan MBG di Kota Kupang pada 16 September 2026.

“Saat ini kami sedang menyiapkan sebuah sistem, agar ke depannya setiap sekolah dapat melakukan penilaian kepada masing-masing SPPG,” katanya.

Menurut BGN, penilaian dapat menyentuh aspek kebersihan makanan, menu, hingga unsur pelayanan lainnya yang nantinya menjadi bahan perbaikan pelaksanaan MBG.

BGN juga meminta kepala sekolah dan guru tidak berhenti pada pemberian rating apabila menemukan masalah serius.

Sekolah didorong melaporkan dugaan pelanggaran, pelayanan buruk, atau persoalan keamanan pangan langsung kepada BGN apabila teguran kepada dapur tidak menghasilkan perbaikan.

Sudaryono bahkan meminta laporan sekolah dapat ditembuskan langsung kepadanya sehingga persoalan di lapangan bisa segera ditindaklanjuti.

Sistem rating tersebut akan melengkapi mekanisme pengawasan yang sebelumnya sudah dikembangkan BGN.

Pada 24 Mei 2026, BGN meluncurkan aplikasi Reviu Menu MBG atau Organoleptik, yang memungkinkan guru sebagai PIC penerima manfaat dan kepala posyandu memberi penilaian terhadap kualitas makanan ketika paket MBG diterima.

Sistem rating SPPG yang kini disiapkan memiliki cakupan lebih luas karena diarahkan untuk mengevaluasi pelayanan dapur, termasuk menu dan proses distribusinya.

Penguatan kontrol terhadap dapur MBG juga berjalan bersamaan dengan pengetatan standar keamanan pangan.

Pada 7 September 2026, BGN mengumumkan penghentian sementara 1.999 dapur SPPG yang belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

BGN menegaskan kepatuhan terhadap standar higiene dan sanitasi merupakan syarat yang tidak bisa ditawar dalam operasional dapur MBG.

Jika diterapkan secara konsisten, sistem penilaian dari sekolah dapat menjadi alat kontrol tambahan yang cukup pragmatis: dapur dengan pelayanan bagus bisa terlihat, sementara dapur dengan keluhan berulang dapat lebih cepat terdeteksi BGN.

Namun, efektivitasnya tetap akan bergantung pada bagaimana rating diverifikasi, bagaimana laporan ditindaklanjuti, serta apakah penilaian benar-benar berujung pada perbaikan layanan.

Untuk saat ini, BGN menegaskan sistem tersebut masih disiapkan dan akan digunakan untuk memperkuat komunikasi langsung antara sekolah dengan pengawas program MBG.

Sumber: BGN, ANTARA

( fan / fan )

Komentar (0)