FIFA Tuding UEFA Kampanye Gelap Jatuhkan Infantino
- FIFA menuding UEFA menjalankan “kampanye pencemaran nama baik” atau smear campaign terhadap FIFA dan presidennya, Gianni Infantino
- UEFA menuding proposal tersebut dikembangkan tanpa konsultasi yang memadai dengan badan pengambil keputusan FIFA dan asosiasi anggotanya
Perseteruan dua kekuatan terbesar sepak bola dunia makin panas. FIFA menuding UEFA menjalankan “kampanye pencemaran nama baik” atau smear campaign terhadap FIFA dan presidennya, Gianni Infantino.
Tuduhan itu muncul dalam dokumen yang diajukan FIFA ke pengadilan federal Amerika Serikat, sebagai respons atas langkah hukum UEFA yang berusaha mendapatkan dokumen dan kesaksian terkait proyek kontroversial FIFA Forward Enterprise (FFE).
Dalam dokumen pengadilan tersebut, FIFA menilai langkah hukum UEFA bukan sekadar upaya mencari bukti.
FIFA menyebut permohonan UEFA sebagai bagian dari kampanye untuk mendiskreditkan kepemimpinan Infantino.
“Permohonan-permohonan ini tak lebih dari siaran pers untuk mendukung kampanye pencemaran nama baik UEFA terhadap FIFA dan kepemimpinannya,” demikian argumen FIFA dalam dokumen pengadilan.
FIFA juga meminta pengadilan menunda atau menolak proses pengumpulan bukti tersebut.
Akar konflik ini adalah FIFA Forward Enterprise, proposal yang didorong Infantino untuk membentuk entitas komersial baru dan membuka sebagian kepentingan komersial FIFA kepada investor eksternal.
Proposal tersebut disebut bisa menghimpun sekitar US$4,2 miliar dari investor swasta dan diklaim FIFA dapat meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola di 211 asosiasi anggotanya.
Namun, rencana itu mendapat tentangan keras dari UEFA dan sejumlah konfederasi lain sebelum akhirnya ditarik FIFA pada 31 Juli 2026.
FIFA bersikeras FFE masih berada dalam tahap konsultasi dan tidak akan berjalan tanpa dukungan mayoritas asosiasi anggota serta persetujuan Dewan FIFA.
Dalam pertarungan hukum terbaru, FIFA bahkan menuding UEFA sejak awal berusaha menggagalkan proposal itu dan ingin mempertahankan dominasi ekonomi sepak bola Eropa.
FIFA juga mempertanyakan dasar permintaan UEFA di pengadilan AS karena proses pidana di Swiss yang disebut akan menggunakan bukti tersebut belum benar-benar diajukan.
UEFA punya versi yang sangat berbeda. Badan sepak bola Eropa itu menilai rencana FFE justru memperlihatkan persoalan serius dalam tata kelola FIFA.
UEFA menuding proposal tersebut dikembangkan tanpa konsultasi yang memadai dengan badan pengambil keputusan FIFA dan asosiasi anggotanya.
Dalam pernyataan resminya, UEFA mendesak adanya pemeriksaan eksternal independen terhadap keseluruhan proses FFE.
“FIFA tidak bisa menyelidiki dirinya sendiri dan berharap komunitas sepak bola begitu saja menerima kesimpulannya,” tegas UEFA.
UEFA kemudian meminta pengadilan di Amerika Serikat mengizinkannya memperoleh dokumen serta kesaksian dari sejumlah pihak yang terkait dengan proyek tersebut, termasuk investor Thrive Capital milik Josh Kushner.
Bukti itu disebut akan dipertimbangkan untuk kemungkinan proses hukum di Swiss terhadap Infantino dan pejabat FIFA lainnya terkait dugaan salah kelola keuangan.
Dalam dokumen pengadilannya, UEFA bahkan menuduh struktur FFE berpotensi memungkinkan Infantino dan lingkaran kecil di sekitarnya memperoleh keuntungan dari aset komersial berharga milik FIFA.
Konflik FFE pun berkembang menjadi pertarungan politik menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027.
Infantino berniat kembali maju, tetapi tekanan terhadapnya meningkat. Reuters melaporkan UEFA bersama AFC dan CONCACAF telah menekan Infantino dan bahkan membahas kemungkinan mosi tidak percaya.
Di sisi lain, Infantino masih mendapatkan dukungan penting dari sebagian federasi Afrika dan Amerika Selatan. Presiden UEFA Aleksander Čeferin sendiri telah menyatakan tidak akan maju, meski memperkirakan Infantino kemungkinan menghadapi penantang.
FIFA melihat serangan terhadap Infantino sebagai manuver politik dan hukum untuk menjatuhkan kepemimpinannya, sementara UEFA menyatakan langkahnya diperlukan untuk membongkar proses FFE dan memperbaiki tata kelola FIFA.
Perseteruan ini kini bukan lagi sekadar perdebatan soal bisnis Piala Dunia, tetapi telah berubah menjadi perebutan arah kekuasaan sepak bola dunia menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027.
Sumber: Reuters, AP, FIFA
( fan / fan )
Komentar (0)