Thinspo: Tren Viral Berbahaya bagi Mental dan Fisik

Oleh f.andrian
Thinspo: Tren Viral Berbahaya bagi Mental dan Fisik
  • Konten semacam ini dapat muncul dalam bentuk foto tubuh, video transformasi, unggahan mengenai penurunan berat badan
  • National Eating Disorders Association (NEDA) sendiri secara tegas memasukkan pesan yang mengglorifikasi tubuh kurus sebagai jenis konten yang berpotensi memicu gangguan makan

Tren thinspo atau thinspiration kembali menjadi perhatian di media sosial karena menghadirkan gambaran tubuh yang sangat kurus sebagai sesuatu yang ideal, menarik, bahkan dianggap sebagai simbol keberhasilan dan kedisiplinan.

Konten semacam ini dapat muncul dalam bentuk foto tubuh, video transformasi, unggahan mengenai penurunan berat badan, maupun konten yang secara tersirat mengagungkan tubuh kurus.

Persoalannya bukan sekadar mengenai preferensi terhadap bentuk tubuh, tetapi bagaimana konten tersebut dapat menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis dan membuat seseorang merasa bahwa tubuhnya tidak cukup baik.

National Eating Disorders Association (NEDA) sendiri secara tegas memasukkan pesan yang mengglorifikasi tubuh kurus sebagai jenis konten yang berpotensi memicu gangguan makan dan karena itu tidak layak dipromosikan dalam ruang komunitas yang aman.

Bahaya thinspo semakin besar karena konten tersebut sering kali dikemas seolah-olah sebagai motivasi untuk hidup sehat.

Diet ekstrem, pembatasan makanan, olahraga berlebihan, atau rasa bersalah setelah makan dapat terlihat seperti bentuk “disiplin” ketika disajikan melalui video dan foto yang menarik. Padahal, kesehatan seseorang tidak dapat ditentukan hanya dari seberapa kurus tubuhnya.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa gangguan makan melibatkan pola makan yang tidak normal serta perhatian berlebihan terhadap makanan, berat badan, atau bentuk tubuh, dan kondisi tersebut dapat menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan fisik maupun mental.

WHO juga mencatat bahwa gangguan makan seperti anoreksia nervosa sering muncul pada masa remaja atau dewasa muda dan dapat berhubungan dengan komplikasi medis serius serta kematian dini.

Media sosial dapat memperkuat masalah tersebut karena pengguna terus-menerus berhadapan dengan gambar dan informasi mengenai penampilan.

Ketika seseorang melihat tubuh ideal yang sama berulang kali, ia dapat mulai menganggap gambaran tersebut sebagai standar normal dan membandingkan dirinya dengan orang lain.

American Psychological Association (APA) memperingatkan bahwa perbandingan penampilan di media sosial berkaitan dengan citra tubuh yang lebih buruk, perilaku makan yang tidak sehat, dan gejala depresi, terutama pada remaja perempuan.

APA juga merekomendasikan agar paparan terhadap konten yang mendorong perilaku gangguan makan, seperti pembatasan makan, perilaku purging, dan olahraga berlebihan, diminimalkan, dilaporkan, serta dihapus dari ruang digital.

Persoalannya menjadi lebih rumit karena algoritma media sosial dapat membuat seseorang terus menemukan konten yang memiliki pola serupa dengan apa yang sebelumnya ia tonton atau interaksikan.

NEDA dalam survei komunitas yang dilakukan pada April 2026 terhadap hampir 2.700 responden yang terdiri atas orang dengan pengalaman gangguan makan, tenaga profesional, serta pengasuh, menemukan bahwa 82 persen responden dengan pengalaman gangguan makan melaporkan melakukan perilaku makan tidak teratur setelah terpapar konten yang berfokus pada tubuh di media sosial.

Sebanyak 58 persen juga mengatakan bahwa konten berfokus pada tubuh atau perilaku makan tidak teratur cukup sulit atau sangat sulit dihindari meskipun mereka berusaha menghindarinya.

Data tersebut merupakan survei komunitas NEDA dan bukan representasi prevalensi seluruh populasi, tetapi tetap memberikan gambaran penting mengenai pengalaman kelompok yang terdampak.

Dampak thinspo juga tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan makanan, olahraga, dan dirinya sendiri.

Seseorang yang terus merasa harus menjadi lebih kurus dapat mengalami kecemasan terhadap makanan, rasa bersalah setelah makan, ketidakpuasan terhadap tubuh, atau dorongan untuk melakukan perilaku ekstrem.

Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat berkembang menjadi gangguan makan pada individu yang rentan.

WHO menegaskan bahwa gangguan makan dapat berdampak terhadap kesehatan fisik dan sering kali muncul bersamaan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Karena itu, menganggap perilaku yang membahayakan tubuh sebagai sebuah tren atau bentuk motivasi bukanlah sesuatu yang sepele.

Remaja menjadi kelompok yang sangat penting untuk diperhatikan dalam persoalan ini karena masa remaja merupakan periode ketika identitas dan citra diri sedang berkembang.

APA menjelaskan bahwa remaja lebih sensitif terhadap perhatian, penerimaan, dan umpan balik dari teman sebaya, sementara kemampuan pengendalian diri masih berkembang hingga masa dewasa.

Inilah yang membuat komentar mengenai tubuh, jumlah tanda suka, respons pengguna lain, serta standar kecantikan di media sosial dapat memiliki pengaruh yang besar.

Namun, masalah citra tubuh akibat media sosial tidak berarti bahwa semua penggunaan media sosial pasti berbahaya.

Penelitian yang dipublikasikan melalui APA menemukan bahwa remaja dan dewasa muda yang mengurangi penggunaan media sosial sekitar setengahnya selama beberapa minggu mengalami peningkatan yang signifikan dalam cara mereka menilai penampilan dan berat badan dibandingkan kelompok yang tidak mengurangi penggunaannya.

Karena itu, menghadapi tren thinspo tidak harus selalu berarti meninggalkan media sosial sepenuhnya.

Langkah yang lebih realistis adalah mulai memperhatikan jenis konten yang dikonsumsi dan dampaknya terhadap pikiran serta perasaan.

Akun yang membuat seseorang terus membandingkan tubuhnya dapat dibisukan, berhenti diikuti, atau dilaporkan apabila mengandung konten yang mendorong perilaku berbahaya.

Penting pula untuk memahami bahwa foto di media sosial tidak selalu menggambarkan realitas secara utuh dan dapat dipengaruhi oleh pose, pencahayaan, penyuntingan, filter, maupun pemilihan gambar.

APA merekomendasikan pengembangan literasi media agar pengguna mampu mempertanyakan apakah suatu konten benar-benar representatif dan memahami bagaimana gambar serta pesan di media sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Pada akhirnya, thinspo bukan sekadar tren estetika yang tidak memiliki konsekuensi.

Ketika tubuh yang sangat kurus terus-menerus digambarkan sebagai standar keberhasilan dan seseorang merasa harus mengorbankan kesehatan demi mencapai standar tersebut, tren ini dapat berubah menjadi persoalan serius bagi kesehatan mental dan fisik.

Tubuh manusia memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, dan nilai seseorang tidak seharusnya ditentukan oleh berat badan atau penampilan.

Media sosial seharusnya menjadi ruang yang membantu seseorang mendapatkan informasi, koneksi, dan dukungan, bukan tempat yang membuatnya membenci tubuh sendiri.

Karena itu, semakin penting bagi pengguna, orang tua, pendidik, kreator konten, dan platform media sosial untuk tidak ikut mengglorifikasi thinspo serta lebih mendorong konten yang realistis, sehat, dan tidak menjadikan bentuk tubuh sebagai ukuran harga diri.

Sumber: American Psychological Association (APA), WHO

( fan / fan )

Komentar (0)