Mau Selevel An Se-young? Liliyana: Kalah, Bangkit Lagi!

Oleh f.andrian
Mau Selevel An Se-young? Liliyana: Kalah, Bangkit Lagi!
  • Hingga Indonesia Open pada Juni lalu, An telah mengoleksi lima gelar pada musim ini, yakni Malaysia Open, India Open, Badminton Asia Championships, Singapore Open, dan Indonesia Open
  • Dominasi An Se-young seharusnya bukan sesuatu yang membuat generasi muda Indonesia merasa mustahil mengejarnya. Standar tinggi itu bisa menjadi gambaran tentang tujuan yang dapat diperjuangkan

Nama An Se-young kini menjadi salah satu tolok ukur tertinggi bagi pebulu tangkis muda, khususnya di sektor tunggal putri.

Pemain Korea Selatan itu bukan hanya berada di jajaran teratas dunia, tetapi juga menunjukkan konsistensi luar biasa sepanjang 2026.

Hingga Indonesia Open pada Juni lalu, An telah mengoleksi lima gelar pada musim ini, yakni Malaysia Open, India Open, Badminton Asia Championships, Singapore Open, dan Indonesia Open.

Dominasi tersebut membuat banyak pemain muda melihat An bukan sekadar lawan, tetapi contoh mengenai seberapa tinggi standar yang harus dicapai untuk bersaing di level dunia.

Bagi legenda bulu tangkis Indonesia Liliyana Natsir, jalan menuju level elite seperti itu tidak mungkin hanya mengandalkan bakat.

Saat terlibat sebagai tim pencari bakat dalam Audisi Umum PB Djarum 2026 di Kudus, Jumat, 11 September 2026, Butet menyoroti satu modal yang harus dimiliki calon atlet sejak usia muda: mental yang kuat.

Pemain berbakat tetap akan menghadapi kekalahan, tekanan, kegagalan, bahkan fase ketika perkembangannya terasa mandek. Perbedaannya terletak pada kemampuan untuk kembali berdiri setelah jatuh.

Pesan terbaru Liliyana terdengar sederhana, tetapi menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang bermimpi mencapai puncak.

“Atlet ini 'kan kita enggak bisa manja, harus mandiri. Kalah juga harus bangkit lagi,” kata Liliyana ketika memantau Audisi Umum PB Djarum 2026 di GOR Djarum, Jati, Kudus.

Pesan itu menempatkan kekalahan bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses pembentukan seorang atlet.

Apa yang disampaikan Liliyana terlihat jelas bila melihat standar permainan An Se-young. Menghadapi pemain nomor satu dunia membutuhkan lebih dari pukulan keras.

Konsistensi, kemampuan membaca permainan, daya tahan fisik, kesabaran dalam reli, hingga ketenangan ketika berada di bawah tekanan menjadi satu paket.

Putri Kusuma Wardani bahkan pernah mengakui setelah menghadapi An di All England 2026 bahwa untuk melawan pemain papan atas, konsistensi dan cara berpikir di lapangan harus benar-benar kuat.

Pengalaman serupa dirasakan pemain muda Indonesia Thalita Ramadhani Wiryawan, yang memang mencantumkan An Se-young sebagai idolanya dalam profil resmi PBSI.

Kesempatan menghadapi An datang pada Kejuaraan Dunia BWF 2026 di New Delhi. Thalita kalah 15-21, 11-21, tetapi pertandingan tersebut justru menjadi ruang belajar langsung untuk memahami level permainan terbaik dunia.

Setelah laga, ia menilai dirinya masih harus meningkatkan kematangan fisik, teknik, keuletan, serta kemampuan bermain lebih aman dan konsisten.

Liliyana sendiri melihat Indonesia sebenarnya memiliki bibit yang menjanjikan. Ketika menjadi tim pencari bakat Audisi PB Djarum di Makassar pada Agustus 2026, ia menilai banyak pemain muda memiliki postur dan kemampuan yang bagus, bahkan membuat tim pencari bakat kesulitan menentukan penerima Super Tiket tambahan.

Namun teknik tetap perlu diasah dan, yang tak kalah penting, daya juang serta keberanian menghadapi tekanan harus terus dibentuk.

Inilah yang perlu dipahami pemain muda yang ingin menjadi An Se-young berikutnya. Jangan hanya melihat trofi, ranking dunia, atau permainan indah ketika seorang juara sudah berada di puncak.

Ada proses panjang berupa latihan berulang, kekalahan, evaluasi, pengorbanan, disiplin, serta kemampuan menjalani kehidupan sebagai atlet secara mandiri.

Bahkan talenta besar dapat berhenti berkembang jika mentalnya mudah runtuh setiap kali hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Pesan Liliyana menjadi relevan: kemampuan untuk bangkit sama pentingnya dengan kemampuan memukul shuttlecock.

Karena itu, dominasi An Se-young seharusnya bukan sesuatu yang membuat generasi muda Indonesia merasa mustahil mengejarnya. Justru standar tinggi itu bisa menjadi gambaran tentang tujuan yang dapat diperjuangkan.

Dengan pembinaan yang tepat, teknik yang terus dimatangkan, fisik yang kuat, kesempatan bertanding serta mental pantang menyerah, pemain muda Indonesia tetap punya jalan menuju level dunia.

Kalah hari ini bukan berarti gagal menjadi juara, selama berani bangkit, kesempatan untuk menjadi yang terbaik masih terbuka.

Sumber: PB Djarum, Kompas

( fan / fan )

Komentar (0)