Pencarian Jurnalis Krakatau Dihentikan, Tangis Pecah Saat Tabur Bunga

Oleh Ahmad ZF
Pencarian Jurnalis Krakatau Dihentikan, Tangis Pecah Saat Tabur Bunga
Source: Istimewa
  • Operasi pencarian lima jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda resmi dihentikan oleh tim SAR gabungan setelah berlangsung selama berhari-hari.
  • Pihak keluarga korban menggelar prosesi tabur bunga yang penuh haru di titik lokasi hilangnya kapal sebagai bentuk penghormatan dan keikhlasan.
  • Sebelum ditutup, tim SAR sempat mengirimkan pesan siaran darurat ke seluruh kapal yang melintas agar turut membantu memantau keberadaan korban.

Operasi pencarian dan pertolongan lima jurnalis dan 3 kru kapal cepat KM Arupadhatu I yang hilang kontak di Selat Sunda, resmi dihentikan pada Kamis (17/9). Keputusan berat tersebut diambil tim SAR gabungan setelah upaya penyisiran selama berhari-hari tidak membuahkan hasil penemuan.

"Dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini oleh pihak yang memiliki kewenangan, dinyatakan dihentikan," ungkap Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers.

Langkah penghentian ini mengacu pada standar prosedur operasional pencarian dan pertolongan batas waktu maksimal. Meskipun seluruh armada telah dikerahkan secara maksimal untuk menyisir lautan lepas, jejak kapal cepat Arupadhatu yang membawa rombongan jurnalis belum kunjung ditemukan.

"Sejak pelaksanaan hari pertama operasi gabungan pencarian dan pertolongan ini, sampai dengan hari ke-10, setelah perpanjangan 3 hari, disampaikan secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang, awak yang berada di kapal tersebut," jelasnya.

Sebelum operasi pencarian ini ditutup total, tim SAR gabungan telah melakukan berbagai upaya strategis. Tim SAR juga mengirimkan pesan siaran darurat kepada seluruh kapal komersial yang sedang melintasi jalur sibuk Selat Sunda.

Pesan siaran tersebut berisi permintaan resmi agar para nakhoda kapal besar turut membantu memantau dan melaporkan jika melihat tanda-tanda keberadaan korban. Namun, hingga tenggat waktu operasi pencarian berakhir, tidak ada satu pun laporan penemuan serpihan kapal maupun tanda-tanda kehidupan dari para penumpang yang diterima.

Tabur Bunga

Menyusul penghentian operasi tersebut, pihak keluarga dari kelima jurnalis diundang langsung ke lokasi pencarian terakhir. Mereka dibawa tim SAR gabungan menuju titik koordinat tempat hilangnya kontak awal untuk melaksanakan prosesi tabur bunga pada Jumat (18/9/2026).

Suasana duka yang sangat mendalam seketika menyelimuti kapal saat anggota keluarga mulai menaburkan bunga ke hamparan Laut Selat Sunda. Isak tangis tidak dapat dibendung lagi ketika harus merelakan kepergian para jurnalis yang hilang saat tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Rombongan jurnalis pemberani ini awalnya bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk memberikan laporan visual terkait peningkatan aktivitas vulkanik. Keberanian mereka dalam menyajikan informasi faktual bagi masyarakat luas kini meninggalkan duka mendalam bagi seluruh insan pers di penjuru Tanah Air.

Pemerintah daerah setempat bersama sejumlah media menyatakan komitmen untuk terus memberikan pendampingan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan. Tragedi memilukan di perairan Banten ini menjadi pengingat keras mengenai betapa tingginya risiko keselamatan yang harus dihadapi oleh para pekerja jurnalistik di lapangan.

Kejadian nahas ini juga mendorong evaluasi ketat terkait regulasi keselamatan pelayaran bagi kapal-kapal kecil yang beroperasi di sekitar zona rawan bencana. Pihak otoritas pelabuhan kini didesak untuk memperketat izin berlayar, terutama ketika kondisi cuaca laut dan aktivitas gunung berapi sedang tidak bersahabat.

Meskipun operasi SAR telah secara resmi dinyatakan usai, pemantauan pasif di perairan Selat Sunda tetap akan dilakukan oleh petugas patroli rutin. Segala informasi terbaru sekecil apa pun yang berpotensi menjadi titik terang akan langsung ditindaklanjuti demi memberikan kepastian mutlak bagi keluarga korban.

( ahm / ahm )

Komentar (0)